Rusia Musuh Sejati Sejak Era Ustmani Hingga Kini

Rusia selalu menjadi musuh Islam dan kaum Muslim. Rusa berpartisipasi di garda terdepan melawan Khilafah Utsmani, membunuh para manula dan anak-anak di Suriah melalui pengeboman demi pengeboman, melarang buku-buku budaya Islam hingga menangkap kaum Muslim yang tidak bersalah.

Beberapa dokumen yang menunjukkan penganiayaan mengerikan terhadap umat Islam di Rusia masih tersimpan. Di dalam Arsip Negara Bagian Sverdlovsk terdapat adanya perintah untuk membunuh Kisanbek Pairasov, berusia 60 tahun, karena telah kembali memeluk Islam setelah dipaksa masuk agama Kristen. Fakta tersebut tercatat dengan baik dalam arsip Arsip Negara Bagian Sverdlovsk Oblast F 24.p.1.d.818.S.243.

Dalam sebuah kalimat tertanggal 8 Februari 1739: “… Karena dia lolos sebanyak 3 kali, dan karena dia masih seorang buronan Kristen dan telah masuk Islam, dia dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar.”

Pada tanggal 14 Maret pada tahun yang sama, Jenderal Swimunov menandatangani sebuah keputusan berkenaan dengan kasus perempuan “Bashkir”. Ia seorang Kristen dan diberi nama Katrina/ Kemudian ia melarikan diri tiga kali di Bashkiria. Karena dia telah meninggalkan agama Kristen dan masuk Islam, dia dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar, sebagai pencegah bagi siapapun, bahwa orang yang mengikuti jejaknya akan dihukum di masa depan.”

Dia adalah seorang Muslimah tua yang dibakar hidup-hidup di alun-alun Kota Yekaterinburg sebulan setelah dia dijatuhi hukuman.

“Hari ini, seperti apa yang terjadi ratusan tahun yang lalu, Rusia memburu kaum Muslim karena keyakinan yang mereka anut. Ini tentu menghalangi penyebaran Islam di kalangan orang-orang Rusia,” tulis Kantor Media Hizbut Tahrir Rusia seperti dipublikasikan mediaumat.news, Rabu (13/3/2018).

Rusia menentang keras penggunaan kerudung (khimar) oleh para Muslimah muda di sekolah-sekolah dan institut agar tidak menjadi contoh bagi orang lain. Mereka yang menganut Islam merasa terasing. Hal ini menjelaskan mengapa mualaf Jannat Bespalova yang taat berkerudung dan jilbab dituduh melakukan tindakan ‘teroris’. Tujuan dari kebohongan yang terang-benderang ini adalah untuk menakut-nakuti dan mencegah orang memeluk Islam dan menjauhkan mereka dari gagasan-gagasan Hizbut Tahrir, partai politik Islam.

Tahun ini, tiga perempuan ditempatkan di bawah tahanan rumah di Tatarstan atas tuduhan melakukan tindakan ‘terorisme’ karena partisipasi mereka dalam perjuangan Hizbut Tahrir. Berkas perkara disiapkan untuk melawan mereka termasuk karena mengadakan pertemuan untuk membicarakan Islam, dan ini tentu saja bukan sebuah kejahatan.

Namun, ahli bahasa, yang mendengarkan ceramah mereka dalam pertemuan tersebut menemukan bahwa terdapat penyebutan beberapa ayat dan hadis serupa dengan ayat-ayat dan hadis yang ada dalam buku-buku Hizbut Tahrir. Ini sudah cukup, menurut mereka, untuk menuduh ketiganya melakukan tindakan ‘teroris’.

Seluruh Muslimah yang dituduh dalam kasus di Tatarstan ini telah meninggalkan Rusia untuk dapat menyingkirkan tuduhan ‘terorisme’. “Saudari kita Jannat (Alla) Bespalova, telah berada di balik jeruji besi selama sekitar dua bulan, di antara para penjahat sesungguhnya, bukan karena kejahatan apapun, hanya karena pernyataan Lâ ilâha illâlLâh,” tulis rilis tersebut.

“Rusia adalah musuh umat Islam. Mereka berperilaku seperti kaum Quraisy. Mereka menghalangi seruan utusan mulia kita Nabi Muhammad saw. Rusia juga berpikir bahwa mereka dapat menghentikan penyebaran kebenaran,” beber rilis tersebut seraya mengutip al-Quran Surat at-Taubah ayat 32 (yang atinya: Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun kaum kafir tidak suka.

0 Comments

Leave a Comment

15 + three =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password