Balasan Bagi Kaum yang Bertakwa

(Tafsir QS ‘al-Mursalat [77]: 41-45)

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي ظِلَٰلٖ وَعُيُونٖ ٤١  وَفَوَٰكِهَ مِمَّا يَشۡتَهُونَ ٤٢ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓ‍َٔۢا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٤٣  إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٤٤ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ٤٥

(Inilah hari yang (di dalamnya) mereka tidak dapat berbicara dan tidak diizinkan meminta uzur sehingga mereka (dapat) meminta uzur. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Inilah hari keputusan. (Pada hari ini) Kami mengumpulkan kalian dan orang-orang terdahulu. Jika kalian mempunyai tipudaya, lakukanlah tipudaya kalian itu terhadap-Ku.  Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS al-Mursalat [77]: 41-45).

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: Inna al-muttaqîna fî zhilâl wa ‘uyûn (Sungguh orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan [yang teduh] dan [di sekitar] mata-mata air). Ayat ini memberitakan tentang keadaan kaum yang bertakwa.

Menurut Muqatil dan al-Kalbi, al-muttaqîn di sini adalah kaum yang menjaga diri dari syirik terhadap Allah SWT. Alasannya, surat ini dari awal hingga akhirnya berisi celaan bagi orang-orang kafir atas kekufuran mereka.1

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Fakhruddin ar-Razi dan al-Baidhawi. Menurut al-Baidhawi, ini kebalikan dari orang-orang yang mendustakan.2

Namun, ada yang berpendapat, di samping menjauhi syirik juga mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Al-Jazairi berkata, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi syirik dan kemaksiatan.”3

Dikatakan pula, “Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dan menaati Dia dengan mengerjakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang.”4

Ibnu Katsir juga berkata, “Mereka adalah orang-orang yang menyembah Allah SWT dengan menunaikan semua yang Dia wajibkan dan meninggalkan semua yang Dia haramkan.”5

Demikian juga Ibnu Jarir ath-Thabari. Mufassir tersebut, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga diri mereka dari siksa Allah SWT dengan menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya di dunia dan menjauhi larangan-Nya.”6

Disebutkan bahwa mereka di akhirat kelak fî zhilâl wa ‘uyûn. Kata zhilâl merupakan bentuk jamak dari kata zhill (naungan).7 Yang dimaksud dalam ayat ini adalah zhill al-asyjâr (naungan pepohonan). Demikian menurut al-Khazin.8

Menurut Abdurrahman aa-Sa’di, disebabkan oleh pepohonan yang beraneka ragam dan bunga-bunga yang menawan.9

Menurut Imam al-Qurthubi dan asy-Syaukani, di samping zhill al-asyjâr (naungan pepohonan), zhill al-qawshûr (naungan istana). Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ مُتَّكِ‍ُٔونَ ٥٦

Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan (QS Yasin [36]: 56).10

 

Ini tentu berbeda dengan keadaan orang-orang yang celaka. Mereka pada Hari Kiamat berada di dalam naungan yahmum, yaitu asap hitam yang busuk baunya.11

Selain berada dalam naungan, mereka juga dalam ‘uyûn. Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata al-‘ayn (mata air). Menurut asy-Syaukani, yang dimaksud dengan al-‘uyûn di sini adalah al-anhâr (sungai-sungai). Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, itu adalah sungai-sungai yang mengalir di sela-sela pepohonan pada kebun-kebun mereka.12

Mata air itu ada yang berupa air, susu, khamr, dan madu.13

Kemudian dilanjutkan: Wa fawâkiha mimmâ yasytahûna (dan [mendapat] buah-buahan yang mereka inginkan). Ini adalah kenikmatan yang akan didapatkan oleh mereka di dalam surga. Mereka akan mendapatkan fawâkih. Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata al-fâkihah (buah-buahan).

Disebutkan bahwa buah-buahan itu mimmâ yasytahûna (yang mereka sukai). Menurut al-Khazin, mimmâ yasytahûn berarti yataladzdzûna bihâ (mereka merasakan kelezatan buah itu).14

Ibnu Katsir berkata, “Yakni berbagai macam buah-buahan. Apa pun yang mereka inginkan, pasti mereka dapati.”15

Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Mereka makan di dalamnya setiap kali mereka inginkan tanpa merasa takut bahaya dan efek buruknya.”16

Al-Jazairi berkata, “Berbeda dengan di dunia. Manusia hanya makan makanan yang mereka dapati. Seandainya mereka menyukai suatu makanan dan mereka tidak mendapatkan, mereka tidak bisa memakannya. Di surga, ketika seseorang menginginkan sesuatu, maka dia akan mendapati dan memakannya. Ini rahasia yang terkandung dalam ungkapan dalam ayat ini: mimmâ yasytahûna  (dari apa yang mereka inginkan).17

Kemudian disebutkan: Kulû wa [i]syrabû ([Dikatakan kepada mereka]: “Makan dan minumlah kalian dengan enak karena apa yang telah kalian kerjakan”). Kalimat Kulû wa [i]syrabû merupakan amr ikrâm (perintah sebagai penghormatan), bukan amr taklîf (perintah sebagai taklif).18

Menurut Ibnu Katsir, ini dikatakan kepada mereka sebagai penghormatan dan perlakuan yang baik kepada mereka.19

Mereka dipersilakan untuk makan dan meminum sesukanya. Ibnu Jarir berkata, “Makanlah kalian semua buah-buahan ini dan minumlah dari mata air ini kapan kalian mau!”20

Dalam ayat disebutkan: hanîa[n] (dengan enak). Menurut Abdurrahman as-Sa’di, “Tanpa kotoran dan sesuatu yang mengeruhkan. Makanan  tidak sempurna kelezatannya hingga makanan dan minuman itu aman dari madarat dan kekurangan; dan hingga mereka yakni bahwa makanan itu tidak terputus dan tidak hilang.”21

Kemudian dinyatakan: bimâ kuntum ta’malûna (karena apa yang telah kalian kerjakan). Huruf al-bâ‘ di sini adalah li as-sababiyyah (untuk menyatakan sebab). Artinya, disebabkan oleh amal shalih yang kalian kerjakan di dunia.22 Perbuatan yang telah dikerjakan adalah ketaatan semasa di dunia.23

Menurut Abdurrahman as-Sa’di, “Amal perbuatan kalian itulah yang menjadi sebab yang mengantarkan kalian ke dalam Jannah al-Na’îm. Demikian pula semua orang yang melakukan kebaikan dalam beribadah kepada Allah SWT dan kebaikan kepada sesama hamba-Nya.”24

Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Ini adalah balasan atas apa yang telah kalian kerjakan berupa ketaatan kepada Allah SWT dan kesungguhan kalian dalam melakukan taqarrub kepada-Nya.”25

Juga firman Allah SWT: Innâ kadzâlika Najzî al-muhsinîn (Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik). Artinya, “Sebagaimana Kami membalas al-muttaqîn (orang-orang bertakwa), Kami juga akan membalas al-muhsinîn (orang-orang yang berbuat kebaikan). Demikian menurut al-Jazairi dan al-Zuhaili.26

Maksudnya, “Inilah balasan Kami terhadap orang-orang yang telah berbuat baik.” Asy-Syaukani berkata, “Balasan agung seperti ini akan Kami berikan kepada orang-orang melakukan perbuatan baik.”27

Allah SWT berfirman: Wayl[un] yawmaidzi[n] li al-mukadzdzbîn (Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan). Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mendustakan berita Allah SWT berkaitan dengan nikmat-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa pada Hari Kiamat.28

Az-Zuhaili berkata, “Yakni azab dan kehinaan pada Hari Kiamat adalah bagi orang-orang yang mendustakan Allah SWT dan para rasul-Nya.29

 

Beberapa Pelajaran Penting

Pertama: Balasan yang diterima oleh orang-orang yang bertakwa berkebalikan dengan balasan terhadap orang-orang kafir. Menurut Fakhruddin ar-Razi, ketika Allah SWT pada Hari Kiamat mengirimkan kepada orang-orang kafir zhill dzî tsalâts syu’ab (naungan yang memiliki tiga cabang), Dia pun menyediakan bagi orang-orang Mukmin tiga macam kenikmatan yang menjadi kebalikan darinya, yakni: zhilâl (naungan), ‘uyûn (mata air, sungai) dan fawâkiha (buah-buahan) (QS al-Mursalat [77]: 41-42).30

 Jika orang-orang kafir diberikan zhill  (naungan) yang tidak bisa menaungi, juga tidak bisa mencegah bara api dan dahaga, maka naungan orang-orang orang-orang yang bertakwa benar-benar bisa menaungi. Di dalamnya ada mata air yang airnya segar dan bisa menghilangkan dahaga, serta membatasi antara mereka dengan nyala api, dan terdapat buah-buahan yang mereka senangi dan mereka inginkan.31

Kedua: Penghuni surga mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dalam ayat ini disebutkan: Wa fawâkiha mimmâ yasytahûna  (dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini). Makna ayat ini, sebagaimana menurut para ulama, penghuni surga akan mendapatkan buah-buahan yang mereka inginkan. Bukan hanya merasakan lezatnya buah-buahan yang tersedia, namun juga mendapatkan buah apa pun yang mereka inginkan dan angankan. Bukan hanya buah-buahan. Semua yang mereka inginkan pun akan diperoleh di dalam surga (Lihat: QS Fushshilat [41]: 31-32; QS az-Zukhruf [43]: 71).

Ketiga: Balasan yang diterima oleh manusia di akhirat adalah buah dari amal yang yang mereka kerjakan selama di dunia. Sebagaimana telah dipaparkan di muka, ini dapat dipahami dari firman Allah SWT: bimâ kuntum ta’malûna (karena apa yang telah kalian kerjakan). Huruf al-bâ‘ dalam ayat ini adalah li as-sabab (menunjukkan sebab).

Juga firman-Nya: Innâ kadzâlika Najzî al-muhsinîn (Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.). Artinya, surga beserta berbagai kenikmatan sebagai balasan Alalh SWT kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang yang berbaik.

Selain ayat ini, banyak ayat lainnya yang isinya senada, seperti QS an-Nahl [16]: 32, al-Zuhruf  [43]: 72, dan lain-lain. Surga yang merupakan balasan kepada penghuninya, dengan jelas juga disebutkan dalam QS al-Ahqaf  [46]: 14).

Sebagaimana orang-orang bertakwa yang dimasukkan surga sebagai balasan atas amal yang mereka kerjakan, demikian pula dengan para penghuni neraka. Mereka mendapatkan siksa yang amat pedih disebabkan oleh amal perbuatan yang mereka kerjakan selama di dunia (Lihat: QS al-Sajdah [32]: 14).

Surga yang merupakan balasan kepada penghuninya, dengan jelas juga disebutkan dalam QS al-Taubah [9]: 94).

Amat banyak ayat senada dengan ini bahwa manusia tidak mendapatkan balasan kecuali apa yang telah mereka kerjakan di dunia (lihat QS Yasin [36]: 54).

Lalu bagaimana mendudukkan ayat-ayat tersebut dengan hadis dari Jabir ra. bahwa Nabi saw. bersabda:

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلَا يُجِيرُهُ مِنْ النَّارِ وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ

Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkan dirinya ke dalam surga dan menyelematkan dia dari neraka, tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah (HR Muslim).

 

Menjelaskan Hadits  ini dan semacamnya, Imam al-Nawawi berkata. “Dalam lahiriah hadis-hadis ini, yang menunjukkan pada ahlul haqq bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan pahala dan surga dengan ketaatan, padahal Allah SWT telah berfirman: “Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” (QS al-Nahl [16]: 32). Juga  dinyatakan, “Itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan karena amal-amal yang dulu kalian kerjakan” (QS al-Zuhruf  [43]: 72). Demikian pula ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Semua itu tidak bertentangan dengan hadis-hadis tersebut. Akan tetapi, makna ayat-ayat itu adalah: Sungguh masuk surga itu disebabkan oleh amalan. Kemudian ada taufik dari Allah untuk beramal dan ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Amal-amal itu diterima karena rahmat dan karunia Allah. Dengan demikian benarlah bahwa seseorang tidak masuk surga hanya semata karena amalnya. Itulah yang dimaksudkan dalam hadis. Kesimpulannya, sesorang masuk surga adalah karena ada amalan. Artinya, disebabkan oleh amal. Amalan itu merupakan rahmat Allah. WalLâhu a’lam.”32

Keempat: Kesamaan antara al-muttaqîn dan al-muhsinîn. Al-Muttaqîn adalah orang-orang yang bertakwa. Al-Muhsinîn adalah orang-orang yang berbuat ihsân (kebaikan). Keduanya memiliki perbedaan makna meskipun terdapat titik temu di antara keduanya. Dalam ayat ini diberitakan, kedua golongan ini memliki kesamaan balasan. Keduanya mendapatkan balasan berupa surga. Ini disebutkan dalam firman Allah SWT:

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٤٤

Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (QS al-Mursalat [77]: 44).

 

Menurut para mufassir, ayat ini memberitakan bahwa sebagaimana Allah SWT balasan surga, demikian pula balasan yang akan diberikan kepada al-muhsinîn (orang-orang yang berbuat kebaikan). Ini berarti, ada kesamaan balasan yang akan diterima oleh mereka.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

1        Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 435

2        Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 780; al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wïl, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-Arabi, 1998), 277

3        Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-;Ulum wa al-Hikam, 2993), 498

4        Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 497

5        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (tt: Dar Thayyibahm 1999), 301

6        Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 143

7        Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhïth, vol. 10 (BeirutL Dar al-Fikr, 1420 H), 379

8        Al-Khazin, Lubâb al-Tanzîl fï Ma’ânì al-Ta‘wìl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 385

9        As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 905

10      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 167; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 435

11      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol., 301

12      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143

13      Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 497

14      Al-Khazin, Lubâb al-Tanzîl fï Ma’ânì al-Ta‘wìl, vol. 4, 385

15      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol., 301

16      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143

17      Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 498

18      Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 325

19      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol., 301

20      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143

21      As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 905

22      Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 435

23      Al-Khazin, Lubâb al-Tanzîl fï Ma’ânì al-Ta‘wìl, vol. 4, 385

24      As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 905

25      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143

26      Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 498; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 331

27      Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 435

28      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143-144

29      Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 325

30      Lihat: Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 780

31      Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 780

32      An-Nawawi, Syar-h al-Nawawi ‘alâ Muslim, 17 (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabiy, 1362) , 160-161

 

0 Comments

Leave a Comment

10 − nine =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password