Teladan Ulama Menghadapi Penguasa

Ulama adalah pewaris para nabi. Yang diwarisi adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakikat hidup, baik hidup di dunia maupun hidup di akhirat. Hal ini sebagaimana disampaikan sendiri oleh Baginda Rasulullah saw: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewarisi ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi dan Abu Dawud).

Dengan demikian, hakikat ulama adalah penjaga ilmu (pengetahuan). Selama ulama ada, selama itu pula dunia ini akan selalu disinari oleh pelita. Dengan itu manusia akan selalu mendapat petunjuk dan tidak akan salah dalam melangkahkan kakinya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam, maka jalan akan tampak kabur.” (HR Ahmad).

Sebaliknya, saat ulama tidak ada lagi, hilanglah pelita bagi dunia ini. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya (secara langsung) dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ulama tidak pernah takut apapun karena dia mengetahui hakikat hidup yang sebenarnya. Ulama tak pernah takut mati sebab mereka tahu mati adalah pintu bertemu Allah Sang Kekasih. Ulama tak pernah takut miskin karena mengetahui hakikat bahwa kaya-miskin tidak ada pengaruhnya di sisi Allah SWT. Ulama tak pernah takut dengan cacian atau hinaan sebab cacian atau hinaan manusia tak ada nilainya. Satu-satunya yang ditakuti hanyalah Allah SWT. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Fathir [35]: 28).

Oleh karena itu, saat ada orang tidak takut kepada Allah sehingga berani bermaksiat kepada-Nya atau orang itu justru takut kepada selain Allah, seperti takut kepada penguasa zalim, maka hakikatnya dia belum sampai pada derajat ulama yang sebenarnya. Memang bisa jadi, ia dianggap ulama oleh masyarakat atau bahkan menjadi ketua para ulama, tetapi dalam pandangan Allah dia bukanlah ulama. Dia hanya orang yang mendapat gelar ulama, tetapi hakikatnya bukan ulama.

Ulama selalu berada di garda terdepan membela agama Allah, menjaga kemurnian Islam dan ajaran-Nya, mendidik masyarakat dengan syariah-Nya, meluruskan yang bengkok dari petunjuk-Nya dan berteriak dengan lantang terhadap berbagai kezaliman. Ulama tak pernah takut sedikit pun dengan penguasa zalim. Yang ditakuti hanyalah Allah SWT.

Berikut ini akan ditunjukkan sikap para ulama mujtahid terhadap para kekuasaan yang zalim pada zamannya. Para ulama tak gentar sedikit pun mengoreksi yang salah dan membela yang benar, apapun risikonya.

 

Beberapa Teladan Ulama

Diceritakan di dalam kitab Al-Islâm bayna al-Ulamâ wa al-Hukkâm karya Syaikh Abdul Aziz al-Badri. Pada saat Al-Mahdi Abu Ja’far al-Manshur kembali dari menunaikan ibadah haji, dia memerintahkan agar Imam Sufyan Ats-Tsauri dibawa menghadap dirinya. Setelah Imam ats-Tsauri menghadap terjadilah percakapan yang serius antara Imam ats-Tsauri dengan Al-Mahdi.

Al-Mahdi berkata, “Mengapa sejak aku kembali dari menunaikan ibadah haji, engkau tidak pernah datang menghadapku, padahal banyak masalah yang ingin aku kemukakan dan minta pendapatmu? Selama ini apa yang engkau sampaikan selalu kami turuti, dan apa yang engkau larang selalu kami jauhi.”

Setelah Al-Mahdi selesai berkata, Imam ats-Tsauri tidak menjawab pertanyaannya. Ia justru mempertanyakan masalah lain karena Al-Mahdi telah dinilai melakukan penyimpangan saat berhaji dengan menggunakan dana masyarakat, “Berapa banyak uang negara yang telah engkau habiskan dalam perjalanan itu?”

Al-Mahdi menjawab dengan jawaban standar khas pejabat, “Aku tak tahu, tetapi engkau dapat melihat rinciannya pada bendaharaku.”

Terhadap jawaban yang mungkin diangap standar oleh kebanyakan orang, Imam ats-Tsauri justru menganggap itu sebagai masalah besar. Lalu beliau mengatakan, “Apa jawabanmu pada Hari Kiamat nanti jika engkau ditanya Allah tentang hal itu?”

Imam ats-Tsauri mengkritik keras jawaban itu. Seakan-akan beliau mengatakan, apakah jika engkau ditanya Allah tentang penggunaan uang rakyat, lalu engkau akan berkata: “Ya Allah, tanyakan saja kepada bendaharaku.” Ini adalah jawaban yang sangat konyol dari seorang pemimpin kepada Allah SWT.

Kemudian beliau melanjutkan nasihat dan kritiknya yang pedas sebagai perbandingan atas penyalahgunaan wewenang. Ia mengatakan, “Ingatlah ketika Khalifah Umar ra. pulang dari menunaikan ibadah haji dan bertanya kepada pembantunya, ‘Berapa banyak uang yang telah kita pergunakan dalam perjalanan haji ini?’ Pembantu itu mengatakan, ‘Delapan belas dinar, wahai Amirul Mukminin.’ Umar lalu berkata, ‘Celaka kita! Kita telah memperkosa harta Baitul Mal.’”

Seorang pegawai di sekitar Al-Mahdi pun menegur Imam ats-Tsauri karena ucapannya yang dia nilai tak layak tersebut, “Tak layak engkau berkata demikian di hadapan Al-Mahdi, Amirul Mukminin.

Namun, justru Imam ats-Tsauri menjawab dengan tegas tanpa rasa takut, “Diam! Sesungguhnya Fir’aun binasa karena Hamman, dan kau sendiri adalah Hamman.”

Itulah Imam ats-Tsauri adalah sosok ulama yang menunaikan amanah keilmuannya dengan sebaik-baiknya. Ia berani menghadapi dan meluruskan penguasa jika memang penguasa tersebut ia nilai salah. Ia bukan tipe ulama pencari muka apalagi penjilat penguasa.

Contoh yang lain adalah kisah nyata yang dilakukan oleh seorang ulama Fudhail bin Iyadh. Ketika Khalifah Ar-Rasyid menghadap beliau pada tengah malam, saat tagannya bersentuhan, tanpa rasa takut beliau berkata, “Celaka aku. Tanganku disentuh oleh tangannya yang berlumuran darah.”

Ar-Rasyid berkata, “Kedatanganku dengan niat yang baik. Semoga Allah memberkahi kedatanganku ini.”

Kemudian Imam Fudhail menasihati penguasa itu tanpa rasa takut, “Tidak! Hatimu belumlah bersih. Engkau telah banyak berbuat dosa terhadap rakyat. Bahkan dosa keluarga dan para pegawaimu juga akan menimpa dirimu. Engkau telah memanjakan mereka dengan segala kemewahan. Akibatnya, mereka bebas berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Ketahuilah, kelak mereka akan meninggalkanmu saat Hari Perhitungan di hadapan Allah SWT. Contohlah Umar bin Abdul Aziz, ketika dia diangkat sebagai khalifah, dia memanggil tiga ulama besar yaitu Salim bin Abdullah, Muhammad bin Ka’ab dan Raja’ bin Hayat. Kepada ulama itu, Umar berkata, ‘Aku ditimpa musibah besar karena aku sudah ceroboh mau menerima jabatan khalifah ini. Aku mohon kalian bertiga dapat memberikan nasihat, saran dan petunjuk.’ Ambillah pelajaran dari kisah tersebut. Umar menganggap jabatan itu sebagai musibah atas dirinya. Sebaliknya, engkau justru menganggap jabatan itu sebagai kepuasan bagi dirimu.”

Kemudian Imam Al-Fudhail menasihati Ar-Rasyid dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu sehingga pada hari akhir nanti engkau tergelincir ke dalam api Jahanam.

Begitulah sikap seorang ulama di hadapan penguasa. Menasihati dengan tulus. Tidak mencari kedudukan dengan memberikan sanjungan palsu. Tidak memutar-balikkan ayat hanya untuk menyenangkan seorang penguasa.

Demikianlah sekelumit contoh/teladan sikap ulama terhadap penguasa. Kisah-kisah lebih banyak dapat dibaca pada kitab Al-Islâm bayn al-Ulamâ’ wa al-Hukkâm atau kitab-kitab lain yang telah ditulis oleh para ulama mukhlish.

 

Khatimah

Ulama memang semestinya hanya takut kepada Allah SWT, menjadi pembela kebenaran, menyampaikan yang haq secara lantang dan menyingkap yang batil secara jelas. Ulama berada di garda terdepan dalam menghadapi berbagai penyimpangan meskipun penyimpangan itu dilakukan oleh mereka yang sedang berkuasa.

Kekuasaan itu memang menyenangkan karena semua keinginan nafsu dapat terpuaskan dengan kekuasaan. Oleh karena itu, kekuasaan itu cenderung mengantarkan pada penyimpangan-penyimpangan dan kezaliman-kezaliman, kecuali mereka yang mengambil dan menunaikan kekuasaan itu dengan benar. Karena itulah Rasulullah mewanti-wanti agar berhati-hati dekat dengan kekuasaan. Rasul saw. pun mengungkapkan dengan bahasa yang sangat halus: mendatangi pintu penguasa. Beliau pernah bersabda, “Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu sultan (penguasa), maka dia akan terkena fitnah dan godaan.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Terhadap para pemimpin yang suka berdusta, Rasulullah saw. telah berpesan kepada kita, “Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Siapa saja yang masuk kepada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telaga (pada Hari Kiamat). Siapa saja yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kezaliman mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (pada Hari Kiamat).” (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Terhadap pemimpin yang adil, yang menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, yang menjalankan syariah secara benar, yang tidak berbuat zalim kepada rakyatnya, kita memang diminta oleh Rasulullah agar taat kepada mereka. Taat di sini bukan ketaan yang buta, namun ketaatan yang didasari oleh pemahaman bahwa ketaatan itu dilakukan sebagai realisasi ketaata kepada Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah meskipun kalian dipimpin oleh hamba sahaya dari Habasyi. Dengar dan taatilah dia selama memimpin kalian dengan Kitabullah.” (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu  Majah, Ahmad dan Al-Hakim).

WalLâhu a’lam bi ash-shawab. [Ibnu C. Ma’ruf]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

4 + 6 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password