Berdalil dengan As-Sunnah

As-Sunnah adalah ucapan, perbuatan atau pengakuan Rasul saw. As-Sunnah itu wajib diikuti seperti halnya al-Quran. Hanya saja, harus terbukti bahwa Rasul saw. memang mengucapkan, melakukan atau mengakui sesuatu yang layak dikategorikan sebagai as-Sunnah. Jika sudah terbukti maka absah ber-istidlâl dengan as-Sunnah atas hukum syariah maupun akidah. Dengan itu pula as-Sunnah itu menjadi hujjah bahwa yang ditetapkan dengan as-Sunnah itu merupakan hukum syariah atau bagian dari akidah.

Hanya saja, penetapan as-Sunnah (tsubût as-Sunnah) itu kadang merupakan tsubût (penetapan) yang qath’i, yakni hadis mutawatir. Adakalanya, tsubût-nya merupakan tsubût yang zhanni, yakni khabar ahad. Khabar/hadis ahad tidak memenuhi syarat-syarat khabar mutawatir. Ini mencakup khabar masyhûr, ‘azîz dan gharîb. Khabar masyhûr atau mustafîdh tetap merupakan khabar ahad. Khabar masyhûr itu dalam istidlâl tidak naik dari derajat khabar ahad dan tidak mencapai derajat mutawatir. Selama dalam riwayat hadis itu ada ahad pada tingkat manapun, baik sahabat, tâbi’în maupun tâbi’ at-tâbi’în, tetap merupakan ahad.

Jadi as-Sunnah dari sisi tsubût-nya ada yang qath’i, yaitu khabar mutawatir, dan ada yang zhanni, yaitu khabar ahad.

Adapun dari sisi dilâlah (makna)-nya, as-Sunnah atau nas secara umum, juga terbagi dua. Ada yang maknanya qath’i, yaitu yang hanya memiliki satu makna atau satu pemahaman saja. Nas yang maknanya qath’i ini tidak memungkinkan adanya ikhtilaf pendapat di dalamnya. Ada juga yang maknanya bersifat zhanni, yaitu yang mengandung lebih dari satu makna atau lebih dari satu pemahaman. Di sini dimungkinkan adanya ikhtilaf pendapat.

Oleh karena itu, nas-nas syariah, termasuk as-Sunnah, bisa dibagi ke dalam empat klasifikasi. Imam ‘Alauddin Abdul Aziz Ahmad al-Bukhari al-Hanafi (w. 730 H) di dalam Kasyfu al-Asrâr ‘an Ushûl Fakhri al-Islâm al-Bazdawî (I/84) dan Imam Muhammad Amin Ibnu Abidin (w. 1252 H) di dalam Raddu al-Mukhtâr Syarh ad-Durru al-Mukhtâr (I/64) menyatakan bahwa dalil-dalil sam’iyyah itu ada empat klasifikasi. Pertama: Qath’iy ats-tsubût qath’iy ad-dilâlah. Contoh: Nas-nas al-Quran yang muhkamât dan as-Sunnah mutawatirah yang mafhûm-nya qath’i.

Kedua: Qath’iy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah. Contoh: Ayat-ayat yang bisa ditakwilkan.

Ketiga: Zhanniy ast-stubût qath’iy ad-dilâlah. Contoh: Khabar ahad yang mafhûm-nya qath’i.

Keempat: Zhanniy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah. Contoh: Khabar ahad yang mafhûm-nya zhanni.

Alhasil, nas yang bersifat qath’i hanya kategori pertama, yakni nas yang qath’iy atstsubût qath’iy ad-dilâlah. Itulah ayat-ayat al-Quran atau hadis mutawatir yang maknanya atau dilâlah-nya qath’i. Adapun tiga kategori lainnya—baik yang qath’iy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah, zhanniy ats-tsubût qath’iy ad-dilâlah maupun zhanniy ats-tsubût zhanniy ad-dilâlah—merupakan nas yang bersifat zhanni.

Iman kepada Rasul saw. mewajibkan setiap Muslim untuk menaati dan mengikuti beliau, sekaligus ber-istidlâl dengan as-Sunnah atas Islam baik dalam perkara akidah maupun hukum syariah. Allah SWT berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepada kalian, terimalah. Apa saja yang beliau larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59]: 7).

 

Hanya saja, ber-istidlâl dengan as-Sunnah itu berbeda-beda kondisinya, bergantung pada perkara yang menjadi obyek istidlâl itu. Jika obyek istidlâl itu cukup dengan ghalabatu azh-zhann (dugaan kuat), maka hadis yang berdasarkan ghalabatu azh-zhann dinyatakan oleh Rasul saw. bisa dijadikan dalil. Dalam hal ini, ber-istidlâl dengan hadis yang diyakini/dipastikan bahwa hadis itu dinyatakan oleh Rasul saw. tentu lebih utama lagi.

Adapun jika terkait perkara yang di dalamnya wajib ada kepastian dan keyakinan, maka wajib pula ber-istidlâl dengan hadis yang diyakini/dipastikan bahwa hadis itu dinyatakan oleh Rasul saw.. Dalam hal ini tidak cukup dan tidak boleh ber-istidlâl dengan hadis yang hanya didasarkan pada ghalabatu azh-zhann bahwa hadis itu dinyatakan oleh Rasul saw. Alasannya, zhann (dugaan) tidak layak menjadi dalil untuk keyakinan (al-yaqîn). Karena itu perkara yang di dalamnya menuntut adanya keyakinan dan kepastian (al-jazm) hanya bisa didasarkan pada al-yaqîn (meyakinkan) dan al-jazm (pasti).

Akidah atau iman adalah perkara yang di dalamnya menuntut adanya keyakinan (al-yaqîn) dan kepastian (al-jazm). Karena itu ber-istidlâl dengan as-Sunnah dalam perkara akidah atau iman ini hanya boleh dengan khabar mutawatir, tidak boleh dengan khabar ahad. Masalah ini akan dibahas lebih rinci dalam artikel berikutnya.

Adapun hukum syariah cukup didasarkan pada dalil yang berdasarkan ghalabatu azh-zhann merupakan hukum Allah SWT yang wajib diikuti. Karena itu dalil atas hukum syariah boleh bersifat zhanni, baik dari sisi tsubût ataupun dilâlah-nya, atau dari sisi keduanya sekaligus. Dalam hal ini tentu dalil yang bersifat qath’i lebih utama digunakan.

Khabar ahad, jika statusnya shahîh atau hasan, bisa dijadikan sebagai hujjah atau dalil atas hukum syariah yang wajib diamalkan baik dalam perkara ibadah, muamalat ataupun ‘uqûbat. Ber-istidlâl dengan khabar ahad dalam masalah hukum syariah adalah kebenaran (al-haqq) dan merupakan perkara yang sudah terbukti. Hal itu telah disepakati oleh seluruh sahabat ridhwanulLâh ‘alayhim, yakni telah menjadi bagian dari Ijmak Sahabat. Dalilnya, syariah mengakui kesaksian dalam pembuktian dakwaan, dan itu merupakan khabar ahad. Telah terbukti berdasarkan nas al-Quran bahwa al-Quran telah mengakui: kesaksiaan dua orang saksi laki-laki atau seorang saksi laki-laki dan seorang perempuan dalam masalah harta (QS al-Baqarah [2]: 282); kesaksian empat orang saksi laki-laki dalam perkara zina (QS an-Nisa’ [4]: 15); dan kesaksian dua orang saksi laki-laki dalam masalah hudûd dan qishâsh. Rasul saw. pun telah memutuskan hukum berdasarkan kesaksian seorang saksi beserta sumpah pemilik hak. Beliau telah menerima kesaksian seorang perempuan dalam masalah persusuan (ar-radhâ’). Semua ini merupakan khabar ahad. Para sahabat seluruhnya berjalan di atas yang demikian, dan tidak diriwayatkan seorang pun yang menyalahi.

Al-Qadhâ’ adalah pengharusan apa yang diputuskan dengan jalan tarjîh (menguatkan) sisi kejujuran atas sisi kebohongan selama syubhat yang membuat khabar itu dicurigai bohong telah hilang dan tidak terbukti. Pengharusan ini tidak lain adalah mengamalkan khabar ahad.

Karena itu, begitu pula mengamalkan khabar ahad yang diriwayatkan dari Rasul saw. dengan tarjîh (menguatkan) sisi kejujuran. Tentu selama perawi adalah seorang yang adil, tsiqah dan dhâbith; selama ia telah bertemu dengan orang yang meriwayatkan; juga selama tidak ada syubhat yang membuat kecurigaan khabar itu bohong dan syubhat itu tidak terbukti ada.

Jadi penerimaan khabar ahad dan ber-istidlâl dengan khabar ahad atas hukum syariah adalah semisal dengan penerimaan kesaksian dan hukum/keputusan berdasar kesaksian itu atas perkara yang diputuskan. Atas dasar itu, khabar ahad menjadi hujjah atas hukum syariah berdasarkan dalil al-Quran dan as-Sunnah dan apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah. Apalagi Rasul saw. telah bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Allah telah menjadikan elok seorang hamba yang mendengar ucapanku, lalu dia pahami dan kemudian dia sampaikan. Betapa banyak pembawa fikih (pemahaman) bukanlah orang fakih dan betapa banyak pembawa fikih (pemahaman) yang membawa fikih (pemahaman) kepada orang yang lebih fakih/paham dari dirinya (HR Ibnu Majah, Ahmad dan asy-Syafii).

 

Kata ‘abd[an] itu mencakup seseorang atau banyak orang. Jadi Rasul saw. memuji seseorang dan beberapa orang (ahad) dalam menukilkan hadis beliau. Rasul saw. pun telah memerintahkan untuk menghapal, mengamal-kan dan menyampaikan atau menukilkan ucapan beliau. Karena itu fardhu bagi orang yang mendengar ucapan beliau, baik seorang atau banyak orang, untuk menunaikannya. Penunaian dan penukilan kepada orang lain itu tidak ada pengaruh kecuali jika ucapannya diterima. Jadi seruan Rasul saw. untuk menukilkan ucapan beliau itu merupakan seruan untuk menerima ucapan beliau tersebut. Tentu selama orang yang menukilkan itu dibenarkan (dipercayai) bahwa itu merupakan ucapan Rasul saw. Artinya, selama orang yang menukilkan itu tsiqah, terpercaya, bertakwa, dhâbith, mengetahui apa yang dibawa dan diserukan. Dengan begitu hilang kecurigaan bohong atas dirinya dan dikuatkan pada dirinya sisi kejujuran.

Ini menunjukkan bahwa khabar ahad merupakan hujjah berdasarkan as-Sunnah secara sharih dan berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah.

Dengan demikian, berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat, absah ber-istidlâl dengan khabar ahad atas hukum syariah. Apalagi ber-istidlâl dengan khabar mutawatir.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

seventeen + nine =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password