Saat Medsos Menjadi Reservoir Energi Politik

Media sosial (medsos) menjadi arus baru. Hampir mengalahkan kekuatan media mainstream. Medsos telah memunculkan reservoir energi politik yang mengemukakan relasi baru antara teknologi media baru, politik dan kehidupan publik. Teknologi digital ini cukup “powerfull” untuk dimanfaatkan dalam proses pembentukan opini dan kegiatan di tengah kelompok-kelompok masyarakat. Suara para ulama dan gerakan Islam ideologis hari ini mendapatkan simpati publik secara kongkret. Dukungan untuk kemenangan politik dan figur islami yang dilakukan berbagai lapisan masyarakat kian menguat..

Medsos sangat membantu mengurangi hambatan tradisional sosio-ekonomi untuk menjadi sosok yang terkenal. Di sinilah letak nilai tambah utama dari medsos. Di medsos Anda tidak harus “menjadi orang” untuk “menjadi seseorang”. Ibu rumah tangga, politisi, wartawan, juru bicara pemerintah, ulama, birokrat, anak sekolah artis, dan aktivis melihat dan dengan sengaja memanfaatkan potensi medsos. Medsos memiliki keleluasaan untuk dibentuk secara mandiri oleh kalangan kaum muda. Dari aspek jangkauan pesan yang tersampaikan pun, medsos memperlancar apapun format hubungan yang dibangun. Tentu termasuk bagaimana komunikasi diproduksi, direproduksi, dimediasi dan diterima. (http://www.politik.lipi.go.id/in/kolom/politik-nasional/753-kekuatan-media-sosial-dalam-pembentukan-opini-politik-.html)

Namun dalam suasana yang represif, ada sejumlah tantangan bagi para mubalig dan aktivis dakwah. Berbagai upaya dilakukan untuk menjegal dan membungkam dakwah. Antara lain dengan cara: Pertama, mengkriminalisasi para da’i dengan tuduhan sebagai kaum radikal, mengancam kebhinekaan, membawa ajaran yang tidak sesuai budaya lokal, dll. Tujuannya adalah agar mereka dijauhi oleh masyarakat.

Kedua, menangkap para pegiat dakwah juga mulai dilakukan. Sejumlah aktifis dakwah dibui dengan tuduhan melakukan ujaran kebencian dan menyebarkan hoax di media sosial. Sebaliknya, berbagai akun medsos yang terang-terangan menghina tokoh Islam, menyerang ormas Islam, juga menghina ajaran Islam lamban diproses bahkan mayoritas tak kunjung ditindak.

Ketiga, mengkriminalisasi ajaran Islam, terutama syariah dan khilafah. Para penentang dakwah melakukan framing terhadap dakwah penegakan syariah dan khilafah sebagai ancaman terorisme.

Terkait penggunaan medsos, para aktivis media sosial di tengah peluang dan tantangan ini perlu meningkatkan kualitas dirinya. Euforia teknologi informasi jangan berlarut-larut tanpa batas. Kini saatnya setiap orang berpikir ulang tentang arti kualitas dalam mengisi ruang maya. Tradisi menulis pendek dan kebiasaan berkomentar nyinyir sudah waktunya diubah menjadi informasi berguna dan perkataan-perkataan yang konstruktif. Menghentikan kebiasaan hoax dan ujaran kebencian mungkin tidak mudah, tetapi harus dilakukan untuk menunjukkan perubahan sebagai penanda kedewasaan manusia.

Kedewasaan juga bisa ditandai dua hal: cara berpikir dan perilaku. Meluruskan niat dan menjadi uswah hasanah dalam berperilaku. Media sosial kini telah berubah menjadi cermin diri bagi seseorang. Baik-tidaknya seseorang dapat dilihat di sana. [Ahmad Rizal; (Dir. Indonesia Justice Monitor)]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

3 × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password