Khilafah Pasti Tegak Kembali

Khilafah Islamiyah dengan izin Allah SWT pasti tegak kembali. Episode peradaban ini adalah sebuah fakta yang tumbuh  dikonstruksi atas  keyakinan (i’tiqâd) dan keniscayaan perubahan peradaban.  Dunia semakin renta. Peradaban kapitalis sekular kian bobrok dan gagal dalam menata dunia (setelah Sosialis ambruk). Semua ini meniscayakan Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya alternatif sistem yang dapat menata dunia.

 

Tumbuh dari Benih Keyakinan

Secara  i’tiqâdî  (keyakinan),  seorang Muslim wajib meyakini kembalinya Khilafah. Sebab Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah saw. Dipertanyakan keimanannya jika ragu atau bahkan tidak percaya akan hal ini. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; juga akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan apapun dengan-Ku. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang fasik (QS an-Nur  [24]: 55).

 

Rasulullah saw. Pun telah mengabarkan bahwa dunia ini akan kembali pada fase Kekhilafahan di atas manhaj  kenabian setelah fase mulkan jabriyyan (kekuasaan diktator) seperti pada saat ini:

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٌ

Kemudian akan datang masa Khilafah ‘ala minhâj an-nubuwwah… (HR Ahmad).

 

Atas dasar keyakinan pula, orang-orang kafir pada saatnya nanti akan dikalahkan sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحۡشَرُونَ ٣٦

Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, mereka akan dikalahkan, dan ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan (QS al-Anfal [8]: 36).

 

Realitas dan Arah Perubahan Dunia

Keyakinan di atas semakin diperkuat atas realitas perputaran roda kehidupan dunia. Perubahan kekuasaan bukanlah hal yang mustahil. Bahkan perubahan politik adalah sebuah keniscayaan.  Banyak yang tadinya merupakan negara kecil akhirnya menjadi negara besar. Amerika Serikat berawal dari negara kecil yang minim budaya dan sejarah peradaban. Namun akhirnya, negara ini menjadi negara adidaya. Demikian pula dengan Cina. Saat ini sudah menjelma menjadi saingan rerius negara adidaya Amerika dan Eropa.

Sejarah pun telah mencatat bagaimana kerajaan-kerajaan di Eropa yang kuat kemudian runtuh. Dulu ada Kerajan Britania Raya.  Kerajaan itu terkenal sebagai pencaplok hampir sekitar seperempat wilayah bumi pada masa kejayaannya sekitar Abad ke-18 hingga ke Abad ke-19.  Kerajaan ini mampu mempertahankan wilayah kekuasannya yang luas itu hingga ratusan tahun lamanya. Jauh lebih lama jika dibandingkan dengan kerajaan besar lain seperti Romawi, Spanyol dan Portugis.  Namun demikian, seiring dengan waktu, kekuasaan ini akhirnya sirna.

Demikian pula dengan Uni Soviet. Uni Soviet merupakan salah satu (mantan) negara adidaya dunia yang sekaligus menjadi rival abadi Amerika Serikat. Negara ini merupakan negara komunis teragung sejagat raya pada masanya. Kekuatan politiknya tidak dapat diremehkan sejak ia berdiri tanggal 25 Oktober 1917. Bahkan 3 tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 1920, Vladimir Lenin terus berusaha melebarkan sayap Komunisme ke luar Eropa Timur.  Perang Dingin (cold war) terus berlangsung antara Negara Adidaya ini dengan Amerika Serikat. Perang Dingin yang sudah lama berlangsung tersebut disudahi dengan runtuhnya negara Uni Soviet pada 25 Desember 1991.

Khilafah juga pernah lama eksis dan  runtuh pula. Setelah  Rasulullah wafat, sistem politik kehidupan Islam kemudian dilanjutkan dengan sistem Kekhilafahan. Sistem ini pernah telah mewarnai ¾ dunia selama lebih dari 1.000 tahun.  Mulai dari Khulafau Rasyidin, Khilafah Bani Umayyah sekitar 91 tahun (41 H sampai 132 H /661-749M), Kekhilafahan Bani Abbasiyyah 783 tahun (tahun 132-918 H/749-1512 M) dan terakhir Khilafah Turki Utsmaniyah selama 424 tahun (918-1342 H/1512-1924 M). Sistem warisan Rasulullah itu kemudian runtuh pada tanggal 3 Maret 1924 dengan khalifah terakhirnya, Sultan Abdul  Majid II.

Demikian pula dengan rezim-rezim diktator. Tidak begitu lama akhirnya juga akan tumbang.  Di negeri ini, rezim Orde Baru yang saat itu seolah sangat sulit runtuh, akhirnya runtuh juga. Masih segar dalam ingatan kita, peristiwa “Arab Spring” telah memusnahkan 5 rezim diktator di kawasan tersebut.

Realitas perputaran roda peradaban dunia di atas membuktikan bahwa perubahan adalah sesuatu yang biasa. Tak ada yang aneh. Pergiliran kekuasaan tersebut adalah hal yang nyata. Segalanya akan terus berproses dan berubah. Persoalan yang terpenting adalah, mau ke mana arah perubahan tersebut?  Sosialisme (yang mencoba berperan dalam peradaban  dengan keruntuhan Sosialis Komunis di Uni Soviet) telah gagal. Kapitalisme global dalam menata dunia juga gagal. Kenyataan ini menjadikan arah perubahan itu akhirnya adalah pada Islam.

Kapitalisme global saat ini justru menunjukkan kebobrokan yang paling nyata pada aspek eknonomi.  Sistem ini terbukti menimbulkan kesenjangan yang luar biasa dalam akses aset ekonomi. Human Development Report 2006 mengungkap,  kelompok 10 persen orang terkaya di dunia saat ini menguasai 54 persen aset dan kekayaan. Bahkan total kekayaan 7 orang terkaya dunia sekarang sama dengan PDB 41 negara termiskin dunia. Di Indonesia, lebih dari 80% tanah telah dikuasai oleh kapitalis asing.

Realitas demikian menjadikan sistem politik Islam adalah satu-satunya alternatif pelanjut peradaban.  Apalagi sistem politik yang dimiliki Islam tersebut telah teruji pernah memberikan keadilan peradaban lebih dari 1.000 tahun.

 

Tegaknya Khilafah Semakin Dekat

Tegaknya Khilafah semakin dekat dengan semakin menguatnya kesadaran umat untuk bersatu. Persatuan adalah kunci kekuatan. Kekuatan adalah kunci kemenangan. Puncak dan resminya kekuataan yang hakiki pada umat itu adalah dengan tegaknya Khilafah Islamiyah.

Tanpa Khilafah, persatuan umat adalah fatamorgana. Tanpa Khilafah, kaum Muslim bercerai-berai. Contoh nyata adalah persatuan negara-negara dalam nasionalisme masing-masing. Ikatan persatuan dengan sekat negara suku bangsa terbukti nyata justru menjadi penghalang persatuan kaum Muslim yang hakiki.

Karena tercerai-berai, berbagai persoalan yang menimpa kaum Muslim di berbagai belahan bumi tak bisa diselesaikan secara bersama-sama. Pembantaian yang terus dilakukan oleh Yahudi terhadap kondisi kaum Muslim di Palestina terus berlangsung. Pasalnya, negeri-negeri Arab menganggap Palestina bukan bagian negara mereka. “Nation state” menjadi dinding pemisah persaudaraan sesama Muslim.  Genosida atas kaum Muslim Uighur di wilayah   Xinjiang Cina juga tidak bisa dihentikan secara nyata oleh negeri-negeri Islam karena mereka dipisahkan oleh negara masing-masing.  Paling bisa kaum Muslim hanya  melakukan protes (demo solidaritas) dan bantuan doa.

Umat semakin membutuhkan kekuatan global untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mereka.  Persoalan kaum Muslim hanya bisa diselesaikan oleh mereka sendiri. Tumpahnya darah kaum Muslim tidak bisa diselesaikan dengan sekadar “kutukan” kepala negara Muslim yang kian menunjukkan kemunafikan dan ketidakberdayaannya.

Persoalan Palestina, Suriah dan negeri-nengeri Islam lainnya pun tidak bisa diselesaikan oleh lembaga dunia seperti PBB. Ratusan resolusi PBB untuk Palestina dan Suriah justru kian memperpanjang derita kaum Muslim di negeri Syam tersebut.  Persoalan mereka juga tidak cukup dengan sekadar bantuan obat-obatan dan simpati kemanusiaan lainnya. Mereka ditindas secara fisik. Mereka diperangi. Mereka dibunuh. Mereka diusir dari kampung halaman mereka. Jadi solusinya adalah mengerahkan kekuatan fisik. Allah SWT berfirman:

قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan perantaraan tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian atas mereka dan melegakan hati kaum Mukmin (QS at-Taubah [9]: 14).

 

Tidak ada yang bisa mengemban kekuatan ini kecuali negara yang dihela dengan sistem Islam. Itulah negara yang menerapkan al-Quran dan as-Sunnah. Negara demikian tiada lain adalah Khilafah Islamiyah ‘ala minhâj an-nubuwwah.

Indikator dekatnya pertolongan Allah SWT dengan tegaknya Khilafah itu juga terlihat dari semakin lemahnya kepercayaan masyarakat dunia terhadap sistem Kapitalisme itu sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan dunia.   Masyarakat Barat sendiri, apalagi masyarakat Muslim, sangat merasakan penderitaan atas penerapam sistem ini di negeri mereka. Krisis ekonomi dan gelombang demontrasi masyarakat Eropa beberapa tahun terakhir lebih dari cukup menjadi bukti bahwa masyarakat Barat sendiri sudah sangat gerah atas sistem politik dan ekonomi yang mengkooptasi mereka. Sistem ekonomi kapitalis terbukti hanya menguntungkan segelintir orang. Apalagi krisis ekonomi  merupakan   “siklus wajib” dari sistem ekonomi balon ini. Pasalnya, sistem ekonomi ini dibangun atas pondasi sistem ribawi dan mudah rapuh.

Masyarakat pun semakin tidak percaya dan marah atas rezim diktator penyelenggara sistem politik ekonomi ini. Di negeri ini, fenomena “Reuni 212” beberapa waktu yang lalu adalah bukti betapa kepercayaan masyarakat terhadap sistem ini sudah berada pada titik nadir. Fakta fenomenal dalam aksi tersebut adalah, selain kita menyaksikan lautan manusia, kita juga menyaksikan lautan ar-rayah dan al-liwa. Panji dan bendera pemersatu umat Islam. Hampir semua media internasional (jika tidak dikatakan semuanya) menjadikan fenomena ini menjadi “headline” media mereka. Geliat “Reuni 212” juga menginspirasi geliat persatuan umat lain di berbagai belahan dunia.

 

Khatimah

Atas kenyataan geliat politik persatuan umat yang kian mengkristal ini, umat memerlukan motor penggerak untuk menyempurnakan proyek besar persatuan ini. Sudah lama umat tidak lagi mempercayai partai politik yang sarat dengan kepentingan pribadi dan golongan mereka. Masyarakat sudah terlalu sering untuk diberi janji manis kampanye, ditipu dan dikhianati. Sungguh umat ini memerlukan kelompok dakwah yang memiliki konsep perubahan yang jelas, mulai dari aspek pemikiran maupun metode pelaksanaan (thariqah). Insya Allah kelompok yang siap dan saat ini melakukan itu dengan serius adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir berdiri dalam rangka menyambut seruan Allah SWT:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebaikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).

 

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Abu Halwa al-Kalimantaniy]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

7 + 10 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password