Kaleidoskop Dunia Islam 2018

Problem umat Islam semakin memburuk dan berlipat ganda. Saat Khilafah tegak dulu, musuh-musuh diliputi kengerian dan perasaan mereka berguncang ketakutan meski hanya membayangkan menghadapi tentara Islam, yang dipimpin oleh Khalifah yang gagah berani.

Namun hari ini, musuh-musuh Islam tidak lagi takut untuk mengotori kesucian kaum Muslim, menghina kehormatan Rasulullah saw. secara berulang-ulang dan secara demonstrative. Mereka merasa aman. Para penguasa Muslim tidak mengangkat satu jari pun untuk menantang mereka. Padahal para penguasa itu secara kolektif memegang otoritas atas umat terbesar di dunia, dengan tentara terbesar dan sumberdaya terbanyak, dan bahkan memiliki senjata nuklir seperti Pakistan.

Kaum Yahudi, yang selama berabad-abad hidup sebagai warga dzimmi yang dilindungi di bawah Khilafah, kini dengan wujud negara Israel (yang mendapat perlindungan oleh AS dan Inggris) melakukan permusuhan terbuka. Berbagai kejahatan kepada kaum Muslim mereka lakukan.

Tatanan dunia kapitalisme–demokrasi dipertahankan dan bahkan ditegakkan melalui tangan para penguasa yang korup di berbagai dunia Muslim. Mereka bertindak sebagai perpanjangan para penjajah yang memaksakan ideologi mereka di dunia Muslim.

Para penguasa Muslim seakan tidak melihat, mendengar atau bertindak merespon kekejaman di Tanah Suci Palestina tatkala pasukan Zionis menahan 908 dan menewaskan lebih dari 50 anak-anak Muslim sejak 1 Januari 2018. Tak satu pun dari mereka prihatin tentang anak-anak dan keluarga yang lebih dari 2 juta Muslim Uighur yang dipaksa masuk ke “kamp politik untuk indoktrinasi” di Tiongkok. Mereka tidak peduli dengan pembersihan etnis di Myanmar.

Ditambah lagi selama tiga tahun terakhir, 85.000 anak-anak di Yaman mati kelaparan dan 2.575 anak tewas, lebih dari 4.000 orang terluka melalui tangan pion Amerika dan Inggris, pasukan koalisi pimpinan Saudi dan Houthi. Sejumlah 1,8 juta anak lagi mungkin menghadapi kelaparan jika perang ini berlanjut.

Negara-negara kapitalis Barat gigih mendorong demokrasi agar diterima oleh seluruh negeri Muslim sebagai alternatif untuk menjatuhkan kediktatoran yang telah menopang kediktatoran represif yang sama selama beberapa dekade. Saat derita umat kian meninggi, mereka diarahkan media-media kapitalistik untuk masih menaruh harapan terhadap narasi kapitalisme global dan organisasi-organisasi internasional yang impoten untuk melindungi darah dari umat ini. Badan seperti PBB, OKI, Liga Arab dll gagal melindungi kehidupan dan hak-hak kaum Muslim di negeri mereka. Korban penjajahan berjatuhan tak terhitung jumlahnya; termasuk di Gaza, Kashmir, Suriah dan Afrika Tengah.

Inilah di antara potret kelam dunia Muslim:

 

Palestina

Terhitung sejak Januari 2018 setidaknya 52 anak Palestina tewas terbunuh oleh tentara Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Para penguasa dari negeri-negeri Muslim yang bertetangga malah saling berlomba untuk menormalkan hubungan negara mereka dengan entitas Yahudi penjajah.

Undang-undang Israel telah diratifikasi untuk mengokohkan upaya mengambil-alih kekuasaan yang memberi lebih banyak wewenang pada kebijakan kriminal terhadap rakyat Palestina dan tanah mereka. Parlemen Israel, Knesset, mengesahkan undang-undang penetapan negara Yahudi. Ini menyebabkan semakin tercekiknya kaum Muslim Palestina yang tinggal di sana oleh entitas penjajah yang merampas hak-hak mereka. Inilah efek dari UU yang rasis atau apartheid.

Entitas Yahudi mengekspos metode dan ide rasis dan kekerasan mereka dengan menginjak-injak klaim mereka tentang “keadilan atau kemanusiaan”. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar kebijakan untuk melegalisasi secara sepihak ekspansi ilegal pemukiman Yahudi di Tepi Barat. Akibatnya, rakyat Palestina tidak memiliki perlindungan atau jaminan keadilan. Pasalnya, para penguasa yang lumpuh tidak mampu memobilisir pasukan-pasukan terkuat mereka untuk menjaga dan membebaskan seluruh Palestina dari penjajahan Israel.

Para penguasa Muslim membiarkan Netanyahu meningkatkan kejahatan entitas Yahudi terhadap rakyat Palestina. Termasuk memberikan legitimasi kejahatan mereka. Padahal seharusnya aksi-aksi sadis Israel memicu alarm paling keras kepada seluruh tentara Muslim. Namun, bagaimana mereka bisa tetap diam ketika Israel meningkatkan kejahatannya? Bagaimana mereka bisa tetap diam ketika Israel melakukan serangan melalui para penembak jitu kepada orang-orang tak berdosa Palestina sekaligus melakukan berbagai penangkapan ilegal termasuk penyiksaan anak-anak dan wanita?

 

Suriah

Di wilayah ini Kafir Barat, dipimpin oleh Amerika, berkonspirasi siang dan malam melawan revolusi umat. Mereka menggunakan alat-alat mereka di wilayah itu dari para penguasa agen. Mereka menipu umat dengan slogan-slogan perdamaian kosong. Mereka yang memulai pembantaian terhadap umat Islam, mereka sendiri yang merancang jebakan palsu solusi damai.

Ghouta telah menjadi saksi aksi-aksi kekejaman terburuk yang dilakukan dalam perang selama bertahun-tahun di Suriah. Rezim Al-Assad, dengan dukungan AS dan Rusia, memukul Ghouta Timur, pinggiran Damaskus, dengan artileri, serangan udara dan bom barel. Ribuan orang telah terbunuh. Dibantu Hizbullah dan Iran, Al-Assad melakukan pengepungan selama setahun untuk memperpanjang derita penduduk yang menolak tunduk hingga menemukan ajal. Ghouta Timur menjadi kasus pengepungan terpanjang dalam sejarah modern.

Ketika rezim Al-Assad membantai warga pada kantong-kantong yang dianggap resistansi terakhir anti rezim, para penguasa Muslim di wilayah itu sekali lagi menunjukkan warna asli mereka. Erdogan memutuskan orang-orang Aleppo dan Ghouta tidak pantas mendapat intervensi militer. Qatar dan Arab Saudi hanya mempersenjatai kelompok-kelompok pemberontak ketika melayani agenda AS, bukan ketika warga dibantai. Raja-raja dan penguasa ini hanya tertarik mempertahankan takhta mereka sendiri, kendati mereka beretorika di media bawha kaum muslim adalah satu umat.

 

Myanmar

Kekerasan ekstrem dalam skala besar telah dilakukan rezim Myanmar kepada kaum Muslim di negara bagian Rakhine, Myanmar utara.  Kaum Muslim Rohingya dibunuh, diteror dan diusir oleh tiran. Militer Myanmar telah memberikan pengakuan bahwa prajuritnya terlibat pembunuhan Muslim Rohingya.

Lebih dari 700.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar tahun lalu menyusul operasi yang dilakukan oleh militer Myanmar. Program pemulangan pengungsi Muslim Rohingya gelombang pertama dari Bangladesh ke Myanmar menemui jalan buntu. Pasalnya, tak seorang pun dari mereka bersedia kembali ke negara itu meski telah didaftar. Tak seorang pun dari sekitar 2.000 pengungsi yang didaftar untuk dikembalikan ke Myanmar bersedia mengikuti program itu. Banyak di antara mereka bahkan bersembunyi.

Kita melihat dengan jelas bahwa hukum internasional tidak berdaya untuk membuat perubahan nyata atas nasib Muslim Myanmar. Penderitaan massal selama bertahun-tahun bagi mereka yang tinggal di Myanmar dan bahkan bagi mereka yang telah mengungsi. Masyarakat internasional terus menutup mata terhadap penderitaan Rohingya. Para penguasa kaum Muslim yang lain hanya puas dengan menggerakan lidahnya. Mereka tidak tergerak untuk menghentikan kejahatan genosida ini. Kaum Muslim Myanmar yang tertindas tidak memiliki tempat yang aman dari teror kaum kafir.

 

Xinjiang

Komunitas Muslim di Cina telah menyaksikan secara langsung kriminalitas rezim Cina. Selain memberangus pemakaian jilbab, kerudung dan jenggot serta melarang puasa di bulan Ramadhan, rezim Cina memaksakan cuci otak ide-ide komunis busuk mereka kepada umat Islam. Mereka menumpas praktek ibadah dan keimanan umat dengan metode tangan besi untuk menundukkan umat. Ini telah menjadi upaya berkelanjutan untuk secara sistematis menghapus identitas Islam.

Rezim Cina secara sinis dan terbuka menggerakkan emosi warganya untuk membasmi ‘ekstremisme agama dan terorisme’, sebuah musuh fantasi rezim. Ini adalah kampanye pelecehan yang kejam yang melanda kaum Muslim Xinjiang disertai penindasan dan pemaksaan asimilasi. Targetnya, umat Islam meninggalkan keyakinan Islam yang sangat mereka pegang.

Taktik ini termasuk tindakan keras terhadap pria Muslim Uyghur berjanggut serta melarang wanita mengenakan busana Islam di gedung-gedung dan tempat-tempat pemerintahan. Selain itu, rezim telah melarang pendidikan agama swasta. Mereka melarang pegawai negara atau siapa pun di bawah 18 tahun untuk memasuki masjid. Mereka juga melarang siswa, guru dan pekerja pemerintah untuk berpuasa pada bulan Ramadhan.

Rezim Cina memperlakuan Muslim Uighur secara brutal dalam agenda sekularisasi komunitas Muslim. Tujuannya untuk membuat kaum Muslim melepaskan iman mereka kepada Allah dan Dinul Islam. Rezim Cina melakukan berbagai taktik tidak manusiawi di kamp-kamp tahanan yang mengerikan untuk menindas pikiran umat. Sebanyak 2 juta Muslim Cina diyakini telah ditahan di kamp-kamp tahanan. Mereka terutama berasal dari Provinsi Xinjiang, yang dengan gigih menolak upaya Beijing untuk menanamkan budaya Cina.

Narapidana menjadi sasaran pencucian otak, penghinaan dan penyiksaan untuk membuat mereka agar bersedia mengikuti kehendak Partai Komunis Tiongkok dan Presiden Xi Jinping. Ini satu potret dari banyak kekejaman terhadap Muslim China. Tidak hanya cukup bagi Muslim untuk mengalami penganiayaan dan penghinaan publik, hak-hak privat mereka sepenuhnya diserang oleh rezim.

 

Saatnya Umat Memiliki Khilafah

Kaum penjajah memiliki kebijakan genosida sekaligus agenda sekularisasi. Tujuannya untuk mengasimilasi umat Islam ke dalam budaya mereka yang islamophobia. Simbol-simbol Islam diserang untuk menelanjangi Muslim dari identitas mereka. Rezim diktator mencegah umat Islam mengekspresikan pandangan politik yang bertentangan dengan kepentingan nasional mereka. Dengan demikian permusuhan ideologis terhadap Islam lebih kelam dan gelap dari sebelumnya. Dari timur ke barat. Tentu kita tidak bisa mengharapkan simpati terhadap Muslim Palestina, Suriah, Myanmar, Uyghur dll dari negara yang memiliki kebijakan serupa di negara mereka sendiri.

Hari ini, kita melihat para penguasa negeri Muslim duduk dengan semua kekuatan militer. Mereka hanya berkedip-kedip menonton. Tidak beranjak untuk menyelesaikan problem serius umat, yaitu pembantaian Muslim. Krisis-krisis ini menuntut solusi militer dan demokrasi telah gagal.

Umat ini membutuhkan satu Negara (Khilafah) dan satu pemimpin (khalifah) yang akan memulihkan keberanian di dalam hati kaum Muslim. Konsep negara-negara bangsa dengan bahasa nasional mereka sendiri telah kehilangan hubungan mereka dengan bahasa Arab dan hubungan dengan al-Quran menjadi lemah.

Umat butuh solusi yang akan membawa kembali Islam dalam urusan kehidupan dan hubungan Muslim. Negeri-negeri Muslim yang terpecah-belah telah membuat mereka rentan terhadap serangan burung pemakan bangkai seperti AS, Cina dan Rusia.

Saatnya untuk bersikap sebagai seorang Muslim yang mampu memahami dan bertindak sesuai dengan tujuan keberadaan kita. Saatnya menghilangkan rasa sakit dan penderitaan saudara-saudari kita dengan mengangkat amirul mukminin (khalifah) yang menerapkan syariah secara kâffah. Dialah pemimpin sejati Muslim yang tidak hanya akan melindungi orang-orang yang hidup di bawahnya, tetapi juga akan melakukan pembebasan kepada seluruh umat manusia yang tertindas di berbagai negara. [Umar Syarifudin; (Pengamat Politik Internasional)]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

twenty + 4 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password