Men-”Suriah”-kan Indonesia?

Ghirah Islam di Indonesia tumbuh subur seiring dengan tumbuhnya gerakan dakwah sejak era reformasi. Atmosfer keberislaman itu kian hari kian kuat. Tidak hanya mereka yang bersarung saja yang merasakan. Kalangan menengah ke atas yang sebelumnya dianggap kurang serius dalam beragama justru terlihat getol dalam mendalami ilmu agama.

Jadi jangan heran, penggerak kajian-kajian Islam bukan lagi berasal dari alumni pesantren. Mereka adalah ‘orang-orang baru’ yang tercelup kesadaran berislam. Artis-artis yang dulunya seolah di menara gading ketenaran, berubah menjadi sosok-sosok yang alim dalam makna yang sebenarnya. Mereka tak lagi menjadi panutan dalam berhura-hura, tetapi berubah menjadi sosok yang ditiru dalam hijrah.

Mau tak mau gelombang kesadaran berislam ini menggiring siapapun untuk kembali melihat agama sebagai tuntunan kehidupan yang harus direalisasikan secara nyata. Bukan sekadar jargon moralitas atau ritual semata.

Bila diamati secara teliti, ada semacam lompatan kesadaran berislam yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Aksi Bela Tauhid 212 yang lalu bisa menjadi bukti. Umat bisa berkumpul dalam jumlah jutaan dengan aman, damai dan penuh persaudaraan. Mungkin ini adalah sesuatu yang absurd bagi mereka yang biasa ‘berbisnis’ mengumpulkan massa dengan uang. Bagaimana mungkin orang bisa berkumpul sedemikian rupa dengan mengorbankan harta bendanya sendiri hanya untuk sebuah perhelatan bertajuk Reuni 212? Tentu tak masuk akal.

Bendera tauhid berupa al-Liwa’ dan ar-Rayah, yang dulunya hanya dikibarkan oleh sebagian kaum Muslim, telah berubah menjadi milik umat Islam. Mereka bangga mengibarkannya, menjadikan simbol kebanggaan dan menghiasi rumah-rumah mereka.  Tak ada rasa takut lagi.

Penyematan radikal, ekstremis, garis keras dan sejenisnya tak mempan membendung gelombang kesadaran baru ini.  Seolah mereka ingin mengatakan, “Saya Islam. Saya bangga dengan bendera tauhid! Saya bangga dengan Islam! Islam bukan radikal. Islam adalah rahmatan lil alamin.”

Kaum Muslim Indonesia yang sebelumnya belum mengetahui  istilah-istilah Islam akhirnya mengenalnya.  ‘Hijrah’ barangkali menjadi kosakata yang sangat populer. Hijrah dari perilaku tidak islami menjadi islami. Berbagai kebijakan Pemerintah yang bertentangan dengan Islam mulai mendapatkan perlawanan secara opini. Itu berlangsung secara masif.

Wajar bila sebagian kalangan menganggap ini adalah tanda-tanda kebangkitan Islam. Itu adalah ‘pekerjaan’ gerakan dakwah yang senantiasa mengampanyekan Islam kâffah.

Sebaliknya, kenyataan ini sangat mengkhawatirkan kalangan  pembenci dan musuh-musuh Islam.  Mereka terus berusaha mencari cara bagaimana gelombang ini bisa dihentikan atau paling tidak dikurangi intensitasnya.

 

Tudingan Ngawur

Muncul tudingan baru yang bisa dianggap akan bisa ‘menakutkan’ kalangan Islam dan gerakan Islam. Apa itu? Bahwa ada gerakan Islam di Indonesia yang akan men-”Suriah”-kan Indonesia.  Tudingan ini didasarkan atas analogi sekenanya bahwa Suriah bergolak karena gelombang yang mirip dengan Indonesia pada awalnya. Untuk menguatkan itu, mereka membuat tagar: #JanganSuriahkanIndonesia pada awal November 2018 lalu. Lalu apa masalahnya dengan Indonesia?

Mereka berasumsi, pertama, agama hanyalah kedok belaka. Mereka menilai kesadaran baru umat Islam ini hanyalah permainan gerakan dakwah yang mencoba memanfaatkan ceruk ‘pasar’ yang menggiurkan, yakni agama.

Dengan berani mereka menuding bahwa gerakan dakwah sebagai ‘berbisnis agama’. Pelakunya mereka sebut sebagai ‘kapitalis agama’. Mereka ‘menjual agama’. Mereka menjadikan atau memanfaatkan agama sebagai atau layaknya “barang dagangan” untuk meraup keuntungan ekonomi-politik dan material-duniawi. Itulah mengapa mereka sangat tidak suka ada yang berbicara politik yang dikaitkan dengan agama. Kritik kepada penguasa atas dasar agama. Hal ini mereka anggap sebagai politisasi agama.

Tudingan agama sebagai kedok ini apa buktinya? Tidak perlu ditanya. Tudingan itu tak pernah disertai data otentik. Hanya sekadar asumsi. Yang terpenting bisa dilontarkan untuk merusak frame berpikir kaum Muslim.  Seolah mereka pun mengatakan bahwa perlawanan rakyat Suriah juga hanya didasari oleh kepentingan duniawi semata. Hanya karena uang dan kekuasaan.

Kedua, mempropagandakan kebencian terhadap penguasa yang mengarah pada upaya pemberontakan. Lagi-lagi tudingan ini didasarkan atas asumsi bahwa Suriah bergolak karena adanya gelombang protes rakyat atas penguasa Suriah, yakni Bashar Assad. Ini yang dianggap sebangun dengan yang terjadi di Indonesia. Umat Islam dianggap ‘membang-kang’ dan benci kepada penguasa. Bahkan ada yang menyebut kelompok Islam sebagai bughat yang layak untuk diperangi oleh negara.

Asumsinya, kalangan yang selama ini dianggap garis keras dinilai tidak sejalan dengan kebijakan Pemerintah. Kalangan Islam dianggap berada berseberangan dengan rezim penguasa. Bahkan tagar 2019 ganti presiden pun dianggap sebagai gerakan makar yang ingin menggoyang kekuasaan negara. Aksi Reuni 212 juga disebut bisa membahayakan negara sehingga negara harus menggelar ribuan pasukan sehari sebelum acara reuni itu untuk unjuk kekuatan.  Benarkah umat Islam memberontak?

Lagi-lagi, jangan ditanya apa dasar tudingan itu. Dalam bahasa Jawa itu yang disebut othak athik mathuk [yang penting pas].  Apakah tidak boleh mengkritik penguasa atas dasar agama? Bukankah penguasa seorang yang beragama Islam? Bukankah Islam yang paling layak sebagai landasan dalam menilai kebijakan penguasa? Apakah penguasa yang tidak adil harus dikatakan adil? Kalau agama tidak boleh digunakan sebagai tolok ukur, lalu tolok ukur apa yang layak digunakan?

Selain dua hal tersebut, ketiga, Suriahisasi akan terjadi karena ada gerakan dakwah yang mencita-citakan penegakan Khilafah. Seolah-olah ujung dari Khilafah adalah perang dan kehancuran sebagaimana di Suriah. Bukan perdamaian, kemajuan dan peradaban mulia.

Supaya kelihatan pas, mereka menganalogikan gerakan yang ada di Indonesia dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).  Seolah-olah siapapun yang menyebarkan ajaran Islam, khilafah, pasti ISIS atau tindakannya nantinya sama dengan ISIS. Tak peduli lagi dengan proses dakwah yang dijalani.

Dengan asumsi itu pula, mereka menganggap kehancuran Suriah itu faktor utamanya adalah keberadaan ISIS dan ide khilafah.  Makanya, ide khilafah itu tidak boleh berkembang di Indonesia kendati itu ada dalam kitab-kitab para ulama. Soalnya, itu bisa menjadi seperti ISIS. Begitu cara berpikir mereka.

Padahal, jika mencermati apa yang terjadi, jelas faktor utama kehancuran Suriah bukan faktor tersebut. Secara waktu, ISIS itu baru muncul belakangan, bukan di awal berkecamuknya konflik. Bahkan diketahui bahwa ISIS itu adalah bentukan Amerika untuk mendukung proses politik Amerika di Suriah. Begitu tak diperlukan, milisi ini pun tak digunakan lagi.

Selain itu, khilafah bukanlah ide yang menyebabkan Suriah hancur. Kehancuran Suriah adalah akibat kediktatoran rezim Bashar Assad dan kepentingan politik negara-negara Barat khususnya Amerika di sana.  Lagi pula, khilafah hanyalah sebuah ide, belum terwujud dalam sebuah institusi yang memiliki otoritas. Sebagai sebuah ide, bisa saja itu diambil oleh siapa saja dan disebarkan oleh siapa saja, apalagi ide itu berasal dari Islam.

 

Biang Tudingan

Muncul pertanyaan, siapa yang berada di balik tudingan kepada gerakan dakwah Islam ini? Jejak digital mudah sekali menelusuri siapa saja mereka itu. Paling tidak ada dua kelompok.

Pertama, kelompok sekular-liberal. Mereka ini sengaja menghembuskan tudingan miring kepada Islam untuk kelemahkan pemahaman umat dari akarnya. Mereka sengaja ‘dimainkan’ di garda terdepan melawan umat Islam.  Banyak di antara mereka adalah generasi Muslim sendiri. Mereka berperilaku ala Muslim dengan segala asesorisnya dan gelarnya yang bertumpuk, tetapi otak mereka sama sekali tak mencerminkan Islam.  Ucapan dan pernyataan yang dilontarkan justru menohok ajaran Islam. Tak jarang, secara terus-terang menentang ajaran Islam.

Kalangan sekular-liberal ini duduk dalam posisi membela rezim penguasa. Mereka ikut menikmati kue kekuasaan. Ini karena bagi kalangan sekular-liberal, Islam harus bisa menerima kenyataan sekarang. Islam tidak boleh terkungkung oleh norma-norma yang mereka anggap masa lalu. Islam perlu modernisasi, termasuk menerima ide-ide yang datang dari luar Islam. Islam harus duduk bersama dengan Barat, yang dianggap sukses membangun kemajuan di segala bidang.

Bagi kalangan sekular-liberal, ide-ide Islam ‘lama’ tak boleh hidup.  Ide khilafah, misalnya, adalah masa lalu. Tak sesuai dengan kekinian. Tak cocok dengan kemajuan zaman. Bahkan ide itu membawa umat Islam pada kemunduran, kebodohan dan kegelapan.  Di sinilah, mengapa mereka sangat getol melawan bangkitnya Islam, apalagi Islam politik. Sebab mereka tahu, munculnya Islam politik akan menjadi penghalang bagi mereka untuk menyebarkan ide-ide sekulerisme dan liberalisme.

Kalangan ini tidak bisa berjalan sendiri. Mereka didukung sepenuhnya oleh rezim penguasa.  Rezim itu pun bergantung kepada asing. Jadilah penguasa yang mengatasnamakan rakyat itu sebenarnya adalah boneka penjajah. Memang secara hukum rezim dipilih oleh rakyat, namun secara kebijakan rezim tersebut tak berjalan secara independen. Rezim itu berada di bawah ketiak penjajah, baik karena faktor politik maupun faktor ekonomi.

Rezim boneka asing inilah yang berperan besar menghadang laju kekuatan Islam politik. Gerakan dakwah yang dianggap tak sejalan dengan kebijakan penguasa bisa dibubarkan sekehendak hatinya. Bahkan gerakan dakwah yang sudah bermetamorfosa menjadi partai politik sekalipun, menang Pemilu secara demokratis, bisa dibubarkan oleh rezim karena dianggap membahayakan eksistensinya sebagai boneka penjajah.

Jika ditengok ke belakang, upaya menghancurkan Islam ini tak lepas dari kepentingan musuh Islam secara global.  Negara-negara yang memusuhi Islam bisa bersatu dalam satu kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Islam baik dari dalam maupun luar, kemudian menguasai wilayah kaum Muslim, mengangkat penguasa boneka, dan menjarah kekayaan alamnya.

 

Kepentingan

Di balik tudingan ada gerakan dakwah yang akan men-”Suriah”-kan Indonesia ada tersimpan niat terselubung.  Mengapa?  Karena tudingan-tudingan tersebut sama sekali berbeda dengan fakta yang terjadi di Suriah. Pertanyaannya, mengapa itu dilakukan? Ada beberapa kemungkinan.

Pertama, mempertahankan rezim dan sistem sekular. Sudah menjadi tabiat sebuah rezim untuk senantiasa menjaga eksistensinya, bagaimana pun caranya. Ini pula yang berlaku di negeri ini. Rezim adalah kebenaran sehingga tidak boleh dikalahkan oleh siapa pun. Siapa yang bertolak belakang dengan rezim, dianggap musuh meski mungkin memiliki gagasan yang cemerlang.

Di samping mempertahankan diri, rezim diangkat dengan sebuah maksud, yakni mempertahankan sistem sekular yang ada. Sangat tidak mungkin, rezim penguasa akan menghancurkan sistem yang menjadikan dirinya berkuasa. Sistem sekular tersebut menjadi jaminan kelangsungan kekuasannya. Hancurnya sistem sekular akan berakibat terlemparnya rezim dari kursi kekuasaan.

Kondisi ini tak lepas dari kemungkinan kedua, yakni adanya agenda asing. Bagaimana pun asing berkepentingan menghancurkan kelompok mana pun yang akan mengganti dan membuang sistem sekular dan menggulingkan penguasa bonekanya.

Harus dipahami, sistem sekular yang dipimpin oleh penguasa boneka adalah jaminan bagi penjajah untuk tetap terus eksis di negeri ini. Keduanya harus terus dijaga keberadaannya. Ini sama persis bagaimana Amerika dan Barat menjaga eksistensi sistem sekular di Suriah dan mengamankan Bashar Assad sebagai presiden meski rakyat tak menghendakinya lagi.

Bahkan belakangan diketahui, gerakan Islam yang memperjuangkan kembali tegaknya institusi Islam, yakni Khilafah, telah menjadi musuh bersama negara-negara Barat yang notabene negara penjajah. Tekanan demi tekanan terjadi di berbagai negara Barat, yang katanya menjunjung kebebasan.

Itu semua dilakukan dalam sebuah kerangka, yakni melanggengkan penjajahan dan upaya mencegah kebangkitan Islam yang anti penjajahan. Ini adalah kemungkinan ketiga. Langkah ini diambil Barat sebab mereka mengetahui potensi kekuatan Islam yang luar biasa bila Islam dan kaum Muslim disatukan oleh institusi khilafah. Tak akan ada kekuatan yang bisa menandingi. Apalagi bila seluruh kaum Muslim dan negeri-negeri Islam melebur menjadi satu kekuatan.

Negara-negara penjajah tak akan pernah memberikan kesempatan sedikit pun kepada Islam untuk membangun sebuah negara, kendati kaum Muslim menggunakan cara-cara yang diridhai oleh Barat. Sebaliknya, Barat akan menghabisi siapa pun yang berusaha membangun sebuah kekuatan baru di luar kekuatan yang sudah ada.

 

Kesimpulan

Kebangkitan Islam adalah kepastian.  Dunia tahu itu. Makanya, mereka akan berusaha mencegah setiap upaya mengembalikan Islam ke dalam sebuah kekuasaan.  Mulai dari cara yang halus hingga cara yang kasar sekali pun.

Tudingan bahwa gerakan Islam akan men-”Suriah”-kan Indonesia adalah bagian dari skenario global untuk meredam kebangkitan Islam.  Skenario itu dijalankan oleh kaum sekular-liberal dan didukung sepenuhnya oleh rezim yang berkuasa. Tudingan itu dimaksudkan untuk melemahkan gerakan Islam dan menjauhkan umat Islam dari pengaruhnya.  Selain itu, cara itu digunakan untuk mencari basis legitimasi agar bisa memukul gerakan Islam yang memperjuangkan syariah dan Khilafah.

Tujuan selanjutnya adalah menjaga eksistensi rezim boneka dan sistem liberal yang mereka jalankan.  Dengan demikian, asing tetap bisa menjarah kekayaan alam Indonesia, melanggengkan penjajahannya, sekalipus mencegah tegaknya Islam dalam sebuah institusi politik Islam, yakni Khilafah.  [Humaidi]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

eleven − ten =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password