Jangan Latah!

Usai shalat Jumat saya dikerumuni beberapa jamaah. Terjadilah diskusi sambil duduk melingkar. “Pak Ustadz, kok sekarang ini ada Islam Nusantara. Bagaimana itu, ya?” tanya seorang jamaah.

“Itu kan istilah tokoh Islam juga. Bahkan, kiai. Kita mah ikut saja atuh,” orang lain menanggapi.

Saya sampaikan bahwa kelak kita ini akan dihisab sendiri-sendiri. Kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan juga sendiri-sendiri. Tidak bisa kita merasa aman dan nyaman karena akan ditolong oleh orang lain, kecuali mengharap syafaat dari Rasulullah saw. Setiap diri tidak akan menanggung dosa orang lain sebagaimana disebut dalam al-Quran surat al-An’am [6] ayat 164, al-Isra’ [17] ayat 15, Fathir [35] ayat 18, az-Zumar [39] ayat 7 dan an-Najm [53] ayat 38. Oleh sebab itu, kita jangan gampang mengikuti. Bila sesuatu itu bertentangan dengan Islam, jangan kita ikuti.

“Kita kan cuma ikutan. Merekalah yang bertanggung jawab. Bukan begitu?” tanya jamaah lain.

Saya sampaikan tidaklah demikian adanya. Rasulullah saw. mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada umatnya. Imam Abu Dawud dan Imam Baihaqi meriwayatkan hadis Rasulullah saw/, “Sesungguhnya aku khawatirkan menimpa umatku para pemimpin yang menyesatkan (al-a’immah al-mudhillin).”

Jadi, bila benar kita ikuti. Sebaliknya, bila keliru jangan kita ikuti. Tolok ukur benar-salah itu sudah jelas, yakni al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas Syar’iyyah yang telah banyak digali oleh para ulama yang lurus.

Bahkan saya katakan, orang yang diikuti (pemimpin) itu, di akhirat kelak akan berlepas tangan dari mereka yang mengikuti dirinya. Bukankah Allah SWT telah berfirman di dalam al-Quran yang maknanya: (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti diri mereka, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) hubungan di antara mereka terputus sama sekali. Berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Andai kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi sesalan bagi mereka. Sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka (TQS al-Baqarah [2]:166-167).

Imam ath-Thabari menyimpulkan bahwa para pemimpin, kepala dan ketua berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti mereka. Beliau memaparkan, “Sesungguhnya Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah berlepas tangan dari para pengikut mereka pada saat mereka menyaksikan azab Allah. Tidak dikhususkan untuk mereka saja satu sama lain, namun berlaku umum bagi semuanya. Jadi, masuk ke dalam perkara itu semua orang yang diikuti atas kekufuran dan kesesatan. Mereka berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti mereka, yang dulu mengikuti mereka dalam kesesatan di dunia, tatkala mereka menyaksikan azab Allah di akhirat” (Tafsir ath-Thabari, Jâmi al-Bayân fî Ta`wîl al-Qurân, 3/287).

Begitu juga di dalam al-Quran surat Ibrahim [14] ayat 21 disebutkan (yang artinya): Mereka semuanya (di Padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah. Lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dulu adalah para pengikut kalian. Dapatkah kalian menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab. “Seandainya Allah memberi kami petunjuk, niscaya kami dapat memberi kalian petunjuk. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh atau bersabar. Sama sekali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (TQS Ibrahim [14]: 21).

“Memang tidak ada Islam Nusantara itu?” tanya jamaah pertama lagi penasaran.

Saya menyampaikan bahwa yang dibawa oleh Rasulullah saw. itu hanya satu, yakni Islam. Bukan Islam Makkah, Islam Madinah, Islam Syam, Islam Yaman, Islam Nusantara, Islam Turki, dan sebagainya.

“Coba apa ayatnya?” tanya dia lagi.

Alhamdulillah, saat itu saya hapal, lalu saya menyebutkan beberapa ayat beserta maknanya dalam bahasa Indonesia. Allah SWT, antara lain, berfirman (yang artinya):

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (TQS Ali Imran [3]:19).

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

Siapa saja yang mencari agama selain Islam sekali-kali tidaklah akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (TQS Ali Imran [3]:85).

 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan bagi kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama kalian (TQS al-Maidah [5]:3).

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedangkan dia diajak pada agama Islam? Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (TQS ash-Shaf [61]:7).

 

“Lha, bila demikian, berbahaya sekali bagi akidah umat,” ujar Pak Miharja, salah seorang jamaah yang saya kenal.

“Bukan hanya akidah umat, persatuan umat juga bisa kena imbasnya ya Pak Ustadz,” timpal Pak Fuad yang dari tadi sekadar menyimak.

“Ya, kita umat Islam akan terkotak-kotak. Orang Islam di Indonesia merasa berbeda dengan Islamnya dengan Islam yang dianut orang bangsa Arab. Begitu sebaliknya. Bayangkan bila ada Islam Mesir, Islam Turki, dsb,” saya menanggapi.

“Padahal Islam itu satu, ya Pak Ustadz. Umat Islam itu satu. Bahkan, kalau tidak salah, kata Rasulullah saw., kita ini seperti satu bangunan yang saling mengokohkan,” ungkap Pak Fuad lagi.

Kan sekarang tidak ada lagi yang namanya Nusantara. Jadi, nanti Islam Nusantara tidak ada, yang ada Islam Jawa, Islam Sumatera, Islam Kalimantan, dsb. Atau Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Aceh, Islam Batak, Islam Buton, dan lain-lain. Parah, dah,” tambah Pak Miharja.

“Wah bisa mengerucut lagi, nanti akan ada Islam Asep, Islam Fuad, Islam Euis, Islam kamu, Islam aku, Islam dia…Tiap orang punya Islam sendiri-sendiri. Ini kan liberal namanya,” tambah Pak Fuad semangat.

“Tapi kan Islam Nusantara itu didukung oleh sebagian kiai, bahkan Presiden,” ungkap jamaah yang bertanya pertama kali tadi. “Makanya, kita jangan latah ikut-ikutan. Kalau salah, ya jangan diikuti atuh! Kita sekarang sudah saatnya mengikuti Islam. Walaupun yang ngomong orang yang disebut tokoh, kalau salah, apalagi bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah, ya jangan kita ikuti,” ujar Kang Dede yang selama ini sekadar manggut-manggut mencoba menyimpulkan. [MR Kurnia]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

15 − 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password