Stop Pemimpin Zalim!

Awal Januari tahun 2019 ini saya berkesempatan bersilaturahmi ke saudara yang menikahkan putrinya di daerah Sumedang.  “Biasanya bila malam 1 Januari tiba, di sini ramai kembang api, terompet, pesta pora dan sebagainya.  Tadi malam mah sepi.  Malah masjid penuh dengan orang berzikir,” ujar Pak Imam membuka obrolan.

“Kira-kira kenapa, ya?” telisik saya.

“Katanya sih takut Gunung Tampomas meletus atau longsor,” jawabnya sambil menunjuk ke arah gunung.

Rupanya, musibah gempa di Lombok, gempa dan likuifaksi di Palu, dan tsunami di Banten membuat banyak orang menjadi takut.  Belum lagi puting beliung di daerah Rancaekek, Bandung, Jawa Barat.  Khawatir bila menentang aturan Allah SWT akan ditimpa malapetaka.  Sungguh benar firman Allah SWT yang maknanya: Tidaklah kami mengirim tanda-tanda kekuasaan itu (berupa musibah dan sejenisnya) selain dalam rangka menakut-nakuti mereka (TQS al-Isra [17]: 59).

Gedung hancur. Tanah lebur. Lahan pertanian porak-poranda. Banyak orang meninggal terkubur.  Kota yang selama ini dibangun musnah dalam sekejap.  Hanya dalam hitungan menit semuanya luluh. Yang tinggal bersisa puing-puing kehidupan.  Semua kita pun berkabung.  Mengapa ini terjadi?  “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.  Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita …,” kata Ebiet G. Ade dalam sebuah lagu lawasnya.

“Ini peringatan dari Allah SWT.  Kita harus bertobat.  Bila perlu, tobat nasional,” ujar Ustadz Fikri.

Bagi orang beriman, musibah ini adalah qadhâ’ dari Allah SWT.  Tidak ada yang dapat menghindar darinya.  Namun, tidak boleh berhenti di situ.  Kita perlu berpikir dan merenung apakah gerangan yang salah.

“Bila seseorang bisulan, ia harus menerima bahwa itu qadhâ’ dari Allah SWT.  Namun, ia harus tahu jangan-jangan wasilah bisulan itu karena dia mandinya tidak bersih atau terlalu banyak makan berlemak,” kata Kang Koko.

“Di lingkungan saya sekarang anak mudanya banyak yang luntang-lantung.  Putus sekolah.  Kadang mabok.  Nganggur.  Kadang bikin gaduh warga.  Menurut saya yang bodoh nih, dia putus sekolah karena sekolah mahal dan tidak punya ongkos tiap hari pulang pergi. Akhirnya, pikiran pusing.  Hidup madesu alias masa depan suram.  Tak ada perhatian dari sekitarnya. Eh, ketemu dengan orang bernasib sama.  Untuk lari dari realitas dibelilah minuman.  Mabok.  Habisnya minuman keras dibiarkan sih,” kata Pak Ran dengan semangat.

“Karena tidak sekolah ya tidak punya keahlian. Akibatnya, mau kerja tidak dapat-dapat.  Kalau pun ada keahlian, lapangan kerja diambil oleh orang asing karena Pemerintah membuka pintu lebar-lebar bagi tenaga kerja asing,”  tambah Pak Ran.

“Ringkasnya, kondisi buruk itu terjadi karena penguasa abai terhadap rakyatnya,” ia menyimpulkan.

Ini suatu gambaran, ambruknya kehidupan suatu kampung, negeri, atau bangsa jauh lebih dahsyat dari sekadar ambruknya bangunan karena tsunami.

Memang ada “sababiyah ghaybiyyah” yang difirmankan oleh Allah SWT terkait hal itu: Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami memerintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah). Namun, bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, sepantasnya berlakulah atas mereka perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu) (TQS al-Isra’ [17]: 16).

Imam ath-Thabari menyampaikan dari riwayat Ibnu Abbas bahwa makna ayat itu adalah “Kami memerintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu untuk taat kepada Allah, namun mereka justru malah bermaksiat kepada-Nya.”

Imam Ibnu Katsir memaknainya dengan menyatakan, “Kami memerintahkan mereka untuk mentaati Allah, namun mereka justru melakukan berbagai perbuatan keji (fahsya) sehingga mereka berhak mendapatkan siksa”.

Lebih detail, di dalam tafsir Fi Zhilali al-Quran, Sayyid Quthub menyatakan makna mutrafuha, “Mereka adalah para pembesar yang memiliki banyak harta, selalu dilayani, hidup senang, menikmati berbagai kebaikan, kenyamanan dan kekuasaan sehingga jiwa mereka lalai, biasa dengan kefasikan dan kegilaan; mengabaikan nilai-nilai suci dan martabat, korup dan melanggar kehormatan.  Bila tidak ada orang yang menghentikan perbuatan para pembesar itu, niscaya mereka sombong dan berbuat kerusakan di muka bumi.  Mereka menyebarkan dan mempropagandakan kekejian (fahsya) di tengah-tengah umat, mereka mengabaikan nilai-nilai tinggi mulia.  Hancurlah umat. Hilanglah daya hidupnya, unsur-unsur kekuatannya, dan sebab-sebab kelestariannya.  Lalu, binasalah lembaran-lembaran umat itu.”

Terlihat ada proses yang terjadi. Mulai dari rusaknya penguasa, tersebarlah kerusakan, sirnanya amar makruf nahi mungkar hingga terjadilah kehancuran masyarakat/umat.  Buhul kehancuran umat bukan sekadar fisiknya, melainkan juga sistem kehidupannya. Penguasa alih-alih menerapkan Islam, ia justru menebarkan fahsya di tengah kehidupan masyarakat yang ujungnya umat tersesatkan.

Tidaklah mengherankan, ada bencana yang sangat ditakutkan oleh Rasulullah saw. menimpa umat mulia ini.  Bukan gempa. Bukan badai awan. Bukan banjir. Bukan pula tsunami.  Bencana yang paling ditakutkan beliau menimpa kita adalah para pemimpin yang menyesatkan, yang keras terhadap umat Islam.

Tsauban ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkat pedang itu sampai Hari Kiamat.” (HR Abu Dawd dan Ibnu Majah).

Di dalam kitab Mawsû’ah Tawhîd Rabb al- ‘Abîd (7/8) disebutkan bahwa yang dimaksud a’immah (para pemimpin) di dalam hadis itu adalah para penguasa dan para ulama serta hamba yang menghukumi masyarakat bukan atas dasar ilmu sehingga mereka menyesatkan rakyatnya.  Kelak, siapa pun yang mengikuti mereka akan menyesal dan akan mengadu kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT yang maknanya: Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sungguh kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami. Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (TQS al-Ahzab [33]: 67).

Jadi, bencana yang kita rasakan bertubi-tubi ini mengisyaratkan adanya pemimpin yang menyesatkan, menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam dan sangat keras terhadap orang-orang yang berpegang pada Islam.  Bila tidak dihentikan, waspadalah, umat diambang kehancuran.  Stop pemimpin zalim! [Muhammad Rahmat Kurnia]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

16 + 16 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password