Pengantar: Khilafah Membawa Berkah (Edisi April 2018)

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, islamophobia tampaknya penyakit akut yang diidap tak hanya oleh kaum kafir musuh Islam. Penyakit ini juga diidap oleh sebagian kaum Muslim, Jika orang kafir phobia terhadap Islam, hal itu mungkin masih bisa dikatakan wajar. Sebaliknya, jika kaum Muslim phobia terhadap Islam, tentu ini tidak wajar. Sayang, faktanya itu terjadi pada sebagian orang yang mengaku Muslim. Kebanyakan mereka adalah Muslim sekular. Sebagian mereka bahkan dipandang sebagai tokoh, ulama, intelektual atau ahli. Contohnya adalah para saksi ahli dari pihak Pemerintah—seperti Guntur Romli, Prof. Yudian, Mantan Ketua BNPT As’ad Mbaay, Kiai Ishomuddin, dll. Mereka kebetulan dihadirkan di persidangan PTUN yang menyoal pencabutan BHP HTI secara sepihak oleh Pemerintah.

Mereka secara umum menolak Khilafah sebagai ajaran Islam. Bahkan sebagian mereka mengaitkan Khilafah dengan terorisme.  Jelas, pernyataan mereka ngawur sekaligus jahat. Pasalnya, kewajiban menegakkan Khilafah telah disepakati kewajibannya oleh seluruh  ulama mua’tabar, khususnya para ulam Aswaja. Jadi bagaimana mungkin Khilafah  dianggap sebagai bukan ajaran Islam, terkait terorisme dan bahkan dituding berbahaya.

Selain telah menjadi kesepakatan para ulama mu’tabar, siapapun yang jujur melihat sejarah akan menyadari betapa hanya pada masa Khilafahlah keagungan peradaban Islam benar-benar nyata. Yang luar biasa, itu berlangsung sekitar tiga belas abad. Ini diakui oleh banyak sarjana Barat yang jujur. Pertanyannya: Bagaimana mungkin Khilafah yang merupakan ajaran Islam sekaligus pernah melahirkan peradaban Islam yang agung selama berabad-abad—sehingga menginspirasi dunia Barat—terkait terorisme dan dituding berbahaya? Jika bukan karena kebodohan, tudingan tersebut jelas berpangkal dari sikap jahat yang lahir dari penyakit islamophobia. Penyakit ini banyak diidap oleh kaum kafir Barat musuh Islam, yang kemudian menular kepada sebagian intelektual Muslim sekular liberal.

Kita tentu selalu berkepentingan untuk menolak pendapat, opini sekaligus framming ngawur yang dibangun oleh kalangan anti Khilafah. Meski sudah sangat sering kita lakukan, hal ini perlu diulang-ulang terus sebagaimana mereka pun terus mengulang-ulang berbagai argumentasi mereka yang ngawur dan rapuh.

Di seputar itulah tema utama al-waie kali ini, selain sejumlah tema menarik lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

0 Comments

Leave a Comment

10 + twelve =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password