Pengantar [Toleransi dalam Islam]

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Sejarah toleransi dalam Islam nyaris seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Turunnya QS al-Kafirun pada masa-masa awal dakwah Rasulullah saw. di Makkah tegas mencerminkan ajaran toleransi ini. Toleransi adalah menyatakan ketegasan sikap dalam berpegang teguh pada keyakinan/akidah Islam. Tak ada campur-aduk agama Islam dengan agama lain. Saat yang sama, membiarkan pihak lain dengan keyakinan atau agama mereka. Dalam bahasa al-Quran: Lâ ikrâha fî ad-dîn. Tak ada paksaan bagi orang-orang non-Muslim untuk memasuki agama Islam.

Dalam sejarahnya, ajaran Islam yang demikian mampu menciptakan toleransi antarpemeluk agama secara hakiki. Tanpa kepuran-puraan. Tanpa intimidasi dan paksaan. Ini berlangsung tidak kurang dari 14 abad. Bahkan hingga hari ini. Meski umat Islam mayoritas, mereka tak pernah mempersoalkan keberadaan kaum minoritas non-Muslim.

Karena itu jika hari ini ada pihak-pihak yang teriak-teriak toleransi sembari menuding kaum Muslim tidak toleran, mereka pasti buta sejarah. Bahkan mereka buta mata hatinya. Mereka umumnya kaum sekular. Kaum liberal. Kerjaan mereka hanya mencitraburukkan Islam. Mereka menutup mata atas fakta bahwa umat Islam justru sering menjadi korban intoleransi pihak lain, dari kalangan mereka sendiri. Apalagi di daerah atau di negeri saat umat Islam menjadi minoritas.

Di Indonesia yang mayoritas umat Islam, misalnya, umat Islam justru sering dipinggirkan. Mereka sering dipojokkan. Mereka tak jarang dikerdilkan. Mereka terus-menerus ditekan, diintimidasi bahkan dipersekusi. Seperti hari ini. Jilbab telah lama dipersoalkan. Azan dituding acap menciptakan kebisingan. Bendera Tauhid pemersatu umat Islam dituduh simbol kekerasan. Yang getol menyuarakan syariah Islam didakwa menebarkan sikap intoleran. Yang mendakwahkan Khilafah sebagai ajaran Islam terus dipersoalkan. Dianggap bakal memecah-belah persatuan. Perda syariah—meski hasil dari sebuah proses demokrasi yang legal—dituding mengancam keragaman.

Padahal sikap demikianlah sebetulnya yang merupakan cerminan nyata dari sikap intoleran. Lalu ‘telunjuk intoleransi’ itu berusaha mereka arahkan kepada umat Islam. Padahal jelas, umat Islam sepanjang sejarahnya sangat toleran.

Itulah tema utama al-waie kali ini, selain sejumlah tema menarik lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

four × 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password