Cara Khilafah Menghadapi Tantangan Dari Para Musuhnya

Akhir-akhir ini, para pemimpin negara-negara Barat dan para peneliti mereka telah memberikan banyak peringatan bahwa kembalihanya Khilafah sudah demikian dekat. Berbagai survei yang mereka lakukan di negeri-negeri kaum Muslim  semakin membuat mereka cemas. Rata-rata tiga perempat responden menyatakan persetujuannya atas penerapan syariah Islam dan penyatuan Dunia Islam. Pasca Arab Spring angkanya semakin meningkat. Sebut saja survei yang dilakukan PEW Research Center tahun 2011. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas penduduk negeri yang disurvei menyatakan wajib ditegakkan perundangan al-Quran. Di antaranya 98% penduduk  Pakistan, 95% penduduk Yordania, 89% penduduk Mesir dan 66% penduduk Palestina.

Oleh sebab itu, persoalannya saat ini bukanlah bagaimana menamkan ide dan gagasan syariah dan Khilafah di tengah-tengah umat. Sebab ide tersebut sesungguhnya telah tertanam dan telah berubah menjadi opini. Persoalannya bukan pula bagaimana mendirikan partai politik yang berjuang di tengah-tengah umat. Sebab tujuan dari partai atau kelompok tersebut telah berhasil. Persoalannya tiada lain: Apakah Barat akan membiarkan begitu saja Khilafah tegak? Apakah Khilafah yang baru saja berdiri mampu melindungi dirinya dari gempuran negara-negara kafir penjajah tersebut?

Negara-negara penjajah yang dipimpin AS tentu tidak akan membiarkan Khilafah tegak. Mereka akan berusaha mengoborsi Khilafah sebelum ia lahir. Namun, dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT, upaya mereka pasti gagal. Khilafah yang akan datang pasti mampu mengahadapi makar mereka. Khilafah bahkan mampu menjadikan tipudaya mereka menjadi wasilah kehancurannya.

Dalam  tulisan ini, kami ingin menyampaikan garis besar mengapa dan bagaimana Khilafah mendatang mampu mengahadapi kekuatan yang berusaha menghancurkannya. Penulis yakin, kecemerlangan berpikir para pengemban dakwah Khilafah lebih luas dari apa yang kami tulis. Selain itu, bisa jadi konstelasi internasional ke depan jauh lebih baik dari yang kami prediksi saat ini.

Pertama: Predikat umat Islam sebagai khayru ummah meniscayakan bahwa mereka tidak pernah rela berada dalam kemundurun dan hidup di bawah cengkeraman peradaban lain.

Kedua: Pemikiran, bagi umat manapun, adalah sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya yang mereka miliki dalam kehidupan mereka. Adapun kekayaan yang bersifat materi, penemuan- penemuan ilmiah, perekayasaan industri serta hal-hal yang lainnya, masih jauh kedudukannya dibandingkan dengan pemikiran. Pendek kata, pemikiran adalah senjata paling kuat baik dalam kebangkitan suatu bangsa maupun dalam mepertahankan eksistensinya.

Lihatlah bagaimana dulu Uni Soviet dengan segala kemajuan dan kekuatan persenjataannya itu bisa hancur tak lama setelah rakyatnya meninggalkan ideologi komunis.

Lihat pula bagaimana Rasulullah saw., hanya dalam beberapa tahun saja, mampu menjadikan Negara Madinah sebagai kekuatan besar yang menandingi bahkan meruntuhkan kekuatan imperium Romawi dan Persia.

Ketiga: Barat telah gagal mengubah keyakinan umat Islam atau setidaknya mengguncang loyalitas mereka pada agamanya. Di berbagai negeri kaum Muslim—seperti Mesir, Afganistan, Pakistan, Bangladesh dan lainya—Barat  gagal mempropagandakan ideologi sekularisme. Sebaliknya, masyarakat Islam sadar bahwa sekularisme adalah sumber kerasakan. Amerika tak berhasil mempromosikan  sekularisme kecuali di Turki. Itu pun dengan jubah “at-tadarruj”. Ini adalah bukti paling nyata bahwa berbagai pemikiran produk sekularime tak laku di Dunia Islam, kecuali dibungkus dengan citra Islam dan dipropagandakan oleh mereka yang berbaju ulama, yang menjual agamanya dengan harga yang sangat murah.

Keempat: Tak ada kekuatan yang mampu menandingi sebuah gagasan yang telah tiba masa kejayaannya. Patrick Buchanan, seorang mantan penasihat senior untuk Presiden Nixon, Ford dan Reagan, menulis artikel yang diterbitkan Anti-War Foundation pada 23/6/2006, yang berjudul, “An Idea Whose Time Has Come”. Ia menyatakan bahwa proses menghidupkan kembali Islam sedang berlangsung hari ini. Kata dia pula, gagasan pemerintahan Islam sudah begitu kokoh dipegang kalangan umat Islam meskipun ada perlawanan kuat dari Barat. Dalam tulisannya itu, ia mengutip perkataan Victor-Marie Hugo,  seorang  penulis aliran romantisme dan penyair terbesar Prancis pada abad ke-19, yang menyatakan: “Kekuatan militer manapun takkan mampu mengalahkan suatu gagasan yang telah tiba masanya.”

Di akhir tulisannya,  Patrick Buchanan menegaskan bahwa saat gagasan kembali pada hukum Islam menjadi opini di tengah mayoritas umat Islam, Amerika seharusnya menyadari bahwa hal itu adalah ancaman serius bagi Barat. Karena itu AS wajib berpikir keras menyusun strategi baru untuk menghadapinya.

Kelima: Di antara bukti ketakutan Barat atas kehadiran Islam tampak dalam banyak pernyataan penguasa mereka. Sebagai contoh apa yang dinyatakan George Bush saat ia menyerang Irak: “Tindakan AS di Teluk bukan tentang agama, keserakahan atau perbedaan budaya seperti yang coba digambarkan Irak.”

Dia menambahkan, “Saddam mengaku sebagai Jihad Arab melawan orang-orang kafir…Padahal dialah yang menggunakan gas beracun terhadap pria, wanita dan anak-anak di negaranya, yang menyerbu Iran dalam perang yang menelan korban lebih dari setengah juta Muslim. Saddam adalah orang yang mengancam negara Arab sekarang, sementara kami berusaha membantu teman-teman kami di kawasan Arab. Kami tidak sendirian melawan Saddam, tetapi negara-negara Arab dan Islam di sekitar kami, berdiri bersama kami.”

Pernyataan Bush ini menunjukkan bahwa ia begitu ketakutan atas  pergeseran konfrontasi antara Amerika dan Irak menjadi konfrontasi antara Amerika dan Arab. Bahkan ia semakin takut bila itu berubah menjadi konfrontasi antara Amerika dan Muslim. Karena itu dia mengulangi kata Arab dan Muslim berkali-kali dan mencoba meyakinkan  bahwa Amerika adalah  sahabat bagi  Arab dan Muslim.

Keenam: Bangsa mana pun yang terlibat perang dengan umat Islam tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana keyakinan Islam, yaitu kekuatan pemikirannya mampu mengalahkan berbagai kekuatan fisik. Oleh karena itu, mereka senantiasa mengandalkan peningkatan kekuatan fisik mereka untuk mengalahkan Muslim. Padahal bagaimanapun peningkatan kekuatan fisik itu dilakukan, ia takkan mampu menandingi kekuatan umat Islam selama mereka mengimani Islam dan mengemban pemikirannya. Sejarah membuktikan hal tersebut.

Ketujuh: Amerika telah  menguras energi untuk membiayai perang di negeri-negeri Islam. Inilah realitas pahit yang membuat AS tak bisa keluar dari kubangan hutang. Menurut pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, Joseph Stiglitz, biaya Perang Irak mencapai $3 triliun. Menurut perkiraan Pusat Studi Strategis yang dipimpin oleh Anthony Cordesman, biaya langsung perang di Afganistan mencapi 841 miliar dolar. Bila ditambah biaya tak langsung nilainya bisa lebih dari 1 triliun dolar. Padahal perang AS di Timteng belum menunjukkan akan berakhir.

Kedelapan: Ketika Amerika ingin berperang melawan Irak, ia merekrut kurang lebih 200.000 tentara bayaran.  Ada beberapa perusahan yang meraih manfaat dari situasi itu, seperti Blackwater USA, Dyn Corp, Triple Canopy, Erinys dan Armor Group. Akibatnya, Amerika sendiri tidak memiliki kendali atas kejahatan, perilaku dan terutama kesetiaan mereka. Apalagi ternyata banyak dari mereka adalah para imigran. Sementara itu, AS telah  menjanjikan  peningkatan  kondisi para imigran saat kembali dari perang. Saat janji itu tidak dipenuhi jelas hal ini menjadi persoalan tersendiri bagi AS. Belum lagi masalah kesehatan, psikologis, keuangan dan para imigran tersebut.

Menurut beberapa perkiraan dari Senat AS, 40% dari pengeluaran perang AS diperoleh dari perusahaan swasta yang merekrut tentara bayaran itu. Jumlah Ini tentu membuat beban  besar bagi  negara. Betapa tidak, utang negara akibat perang ini mencapai  $20 triliun! Oleh karena itu, diperkirakan bahwa setiap perang yang dilakukan Amerika melawan Dunia Islam dapat mengurangi kemampuan militernya paling sedikit 20%.

Kesembilan: Ketika Amerika berniat menyerang Iran karena program nuklirnya, seorang  jurnalis terkenal Simon Hersh melakukan studi tentang perang itu. Setelah berkonsultasi dengan pakar militer dan ahli strategi,  ia menyimpulkan bahwa peperangan melalui serangan udara tidak mungkin menghasilkan kemenangan telak betapapun besarnya kekuatan yang dikerahkan. Padahal selama ini,  serangan melalui udaralah yang menjadi andalan AS dalam peperangannya di Dunia Islam.

Kesepuluh: Ketika AS memasuki perang melawan Irak, negara itu perlu menghimpun 23 negara bersamanya. Untuk itu, ia butuh waktu enam bulan untuk mempersiapkannya. Peperangan tak mungkin dilakukan tanpa dukungan logistik dan pangkalan udara di Dunia Islam, seperti Arab Saudi dan Kuwait. Oleh karena itu, akan sangat sulit bagi AS untuk menemukan titik tolak dalam peperangan melawan Daulah Islam yang akan datang.

Kesebelas: Dunia Islam memiliki  negara-negara yang berkekuatan militer besar seperti Turki dan Pakistan. Sifat tentara adalah patuh pada perintah pimpinan. Jika para pengemban dakwah berhasil menyisihkan para perwira agen penjajah dalam tubuh militer, dan mampu menarik para perwira yang tulus, tentu akan  lebih mudah mengubah para pasukan daripada mengubah orang biasa. Tentu karena faktor kepatuhan prajurit terhadap perintah atasannya. Lebih dari itu, negara yang memiliki kekuatan anti-rudal, pesawat tempur dan para tentara terlatih tak akan mudah untuk dikalahkan. Apalagi hanya melalui serangan udara sebagaimana yang dilakukan AS.

Keduabelas: Negeri-negeri Islam memiliki kekayaan alam dan energi yang sangat melimpah. Bahkan Dunia sangat bergantung pada sumber daya tersebut. Berperang melawan Khilafah Islam sama artinya memutuskan pasokan energi tersebut. Ini tentu berdampak pada krisis ekonomi di Barat. Akibatnya, pemerintahan di Barat akan berada di bawah tekanan rakyatnya yang luar biasa.

Ketigabelas: Kaum Muslim di berbagai negeri Islam saat ini berusaha lepas dari kejahatan penguasa dan rezim mereka. Umat saat ini sadar bahwa kekuatan mereka ada pada kesatuan mereka. Saat rezim-rezim antek penjajah itu jatuh dan Daulah Islam tegak, tak mungkin umat rela untuk kembali berada dalam cengkeraman Barat penjajah. Saat itulah, penjajah kehilangan tumpuannya di Dunia Islam. Belum lagi penyebaran Dunia Islam  yang cukup luas. Tak mudah bagi Barat melakukan peperangan yang cepat dan luas meliputi  di seluruh wilayah.

Keempatbelas: Ada adagium yang mengatakan, “Rakyat tidak bergerak kecuali bila mereka digerakkan.” Saat Khilafah berdiri, tentu Khilafah akan berpacu dengan waktu untuk menggunakan seluruh media yang sebelumnya dikuasai kekuatan penjajah untuk menggerakkan seluruh rakyat.  Saat itulah kekuatan umat benar-bernar hadir kembali.

Kelimabelas: Untuk menghadapi serangan AS dan sekutunya, tentu tak cukup dengan tentara reguler saja, melainkan seluruh komponen umat bangsa harus terlibat. Hal tersebut meniscayakan Khalifah untuk melakukan hal berikut:  (1) Memanggil seluruh umat Islam yang mampu mengangkat senjata untuk berlatih perang, menguatkan keimanan, kesabaran dan pengorbanan mereka. Menyadarkan bahwa mati syahid adalah kemuliaan bagi mereka. (2) Distribusi senjata kepada setiap Muslim yang telah dilatih dan membentuk mereka  dalam kelompok-kelompok pasukan dengan satu kepemimpinan. (3) Meningkatkan kemampuan pasukan reguler, terutama menyangkut kekuatan pemikiran dan keimanan, agar nafsiyyah mereka benar-benar matang. (4) Menghimpun kekuatan umat yang berada di luar Kehilafahan. (5) Menyiapakan kelompok khusus yang disebar di seluruh Dunia Islam untuk melakukan lobi yang tepat untuk  menudukung Khilafah.

Keenambelas: Dalam atmosfer ini, perhatian dunia akan fokus  pada Kekhalifahan dan posisi negara-negara Barat terhadap Khilafah. Saat itulah Kekhilafahan berusaha menarik emosi umat Islam di seluruh dunia dan menghimpun kekuatan mereka untuk berjuang bersama Khilafah.

Ketujuhbelas: Dalam atmosfer ini pula, tidak dapat dibayangkan adanya pribadi maupun kelompok di tengah umat Islam yang memilih bersikap netral. Bahkan di luar wilayah Kekhilafahan sekalipun sulit dibayangkan ada ulama ataupun cendekiawan Muslim yang masih menunjukkan loyalitas mereka kepada Barat.  Sebaliknya, AS dan sekutunya akan menyaksikan umat Islam berada dalam satu barisan untuk menghadapi mereka. Pada saat yang sama, Barat tak mungkin lagi melakukan blokade ekonomi, sebab sumber-sumber energi tidak lagi dikuasai oleh mereka. Oleh sebab itu, tak menutup kemungkinan kemengan akan dapat diwujudkan sebelum pertempuran meletus.

Kedelapanbelas: Telah menjadi sunnatullah, bahwa Allah SWT akan memenangkan orang-orang yang menolong-Nya, menjadikan mereka para pemimpin di muka bumi, mengokohkan agama-Nya untuk mereka. Allah SWT berfirman:

فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ وَيَوۡمَئِذٖ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٤ بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ٥

Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki.  Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5).

 

(Diringkas dari majalah al-waie arab edisi 386-387, dengan judul, “Kaiya Tuhbithu Dawlah al-Khilâfah Muhâwalâti Ijahâdhihâ Hîna Nusyû’ihâ” oleh Tsair Salamah Abu Malik).

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

four − one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password