Cara Khilafah Mengatasi Krisis Ekonomi – (Mengerahkan Bantuan dari Berbagai Daerah) – Bagian 3

Tatkala menanggulangi krisis, bisa jadi pemerintah pusat tidak mampu menopang seluruh pembiayaan dan kebutuhan yang ada. Ini adalah hal yang lumrah saja. Bisa jadi karena kondisi kas keuangan dan faktor lain yang tidak mencukupi. Ini pun pernah dialami pada masa Khalifah Umar.

Tatkala menghadapi situasi tersebut, langkah ketiga yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dalam menyelesaikan krisis adalah dengan meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Sebagaimana yang diceritakan di dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad ash-Shalabi, Khalifah Umar langsung bertindak cepat ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi penanggulangan krisis. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan. Petugas Khalifah Umar langsung mendatangi Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir, “Dari hamba Allah, Umar bin al-Khaththab, Amirul Mukminin, untuk Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah padamu. Selanjutnya, tegakah kau melihatku dan orang-orang di sekitarku, sementara engkau dan orang-orang di sekitarmu hidup penuh kenikmatan? Tolonglah kami, tolonglah kami.”

Amru bin Ash membalas, “Untuk hamba Allah, Amirul Mukminin, dari Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah kepadamu. Saya memuji Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Selanjutnya, bantuan akan segera tiba. Untuk itu, bersabarlah. Saya akan mengirim kafilah untukmu. Yang depan berada di dekatmu, sementara yang belakang berada di dekatku. Saya berharap bisa membawa bantuan melalui laut.”

Gubernur Mesir, Amru bin al-Ash mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim  lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar.

Khalifah Umar juga mengirim surat kepada para gubernurnya di Syam. “Kirimkan makanan yang layak untuk kami karena sudah banyak yang binasa kecuali jika Allah merahmati mereka.”

Surat serupa juga dikirim kepada para gubernurnya di Irak dan Persia. Semuanya mengirim bantuan untuk Khalifah.

Fragmen di atas menunjukkan kesigapan pemimpin kaum Muslim dalam  menyelesaikan krisis; ketika mendapati pemerintah pusat sudah tidak mampu lagi menutupi semua kebutuhan dalam rangka menyelesaikan krisis. Pemerintah pusat langsung memobilisasi daerah-daerah wilayah Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu untuk membantu menyelesaikan krisis tersebut. Khalifah Umar langsung mengirim surat dan utusan langsung untuk mengurusi hal ini, agar bantuan segera terkondisikan dan disiapkan.

Dari fragmen di atas juga bisa dipahami, bahwa para gubernur dengan semangat ukhuwah islamiyah dan manajemen pemerintahan yang rapi serta saling menopang, langsung sigap menyiapkan dan memberikan bantuan dengan jumlah yang sangat banyak. Bantuan itu benar-benar bisa membantu secara tuntas semua kebutuhan yang diperlukan. Sebagaimana digambarkan oleh Gubernur Amru bin Ash, bantuan masyarakat Mesir, ujung kepala bantuan berada di Madinah, sedangkan ekornya berada di Mesir. Bisa dibayangkan, betapa banyak bantuan yang disiapkan dan diberikan oleh Gubernur Mesir untuk pemerintah pusat. Belum lagi bantuan dari Syam dan Irak. Itu semua dilakukan dengan spirit menjalankan syariah Islam dalam pengelolaan pemerintahan khususnya, bantuan daerah kepada pusat dalam upaya penanggulangan krisis.

Ath-Thabari menuturkan, “Orang pertama yang datang kepada Khalifah  Umar adalah Abu Ubaidah bin Jarrah. Ia membawa empat ribu kendaraan berisi makanan. Abu Ubaidah menangani pembagian makanan untuk orang-orang di sekitar Madinah. Ketika kembali, Abu Ubaidah diberi empat ribu dirham. Abu Ubaidah berkata, ‘Saya tidak memerlukannya, wahai Amirul Mukminin. Saya hanya menginginkan Allah, jangan menyertakan dunia.’ Abu Ubaidah tidak menerimanya. Khalifah Umar berkata, ‘Ambillah, tidak apa-apa bila kau tidak menginginkannya.’ Abu Ubaidah tetap enggan. Khalifah Umar berkata, ‘Ambillah, saya dulu pernah ditugaskan Rasulullah seperti ini, Beliau berkata kepadaku seperti yang saya katakan padamu. Saya pun mengatakan kepada beliau seperti yang kau katakan kepadaku. Kemudian beliau memberiku.’ Abu Ubaidah menerimanya kemudian pulang bersama orang-orangnya lalu Khalifah Umar memeriksa kondisi rakyat.”

Kita bisa bayangkan, betapa banyak bantuan yang berjumlah 4.000 kendaraan berisi makanan. Belum bantuan pakaian, obat-obatan, dll. Sungguh, bantuan yang bisa mencukupi seluruh warga yang terkena krisis, tanpa terkecuali. Tidak ada satu pun warga ynag terkena krisis yang tidak mendapatkan bantuan.

Muawiyah bin Abu Sufyan mengirim tiga ribu unta membawa makanan dan bantuan dari Irak datang membawa tepung. Khalifah Umar segera membagikan bantuan tersebut kepada seluruh penduduk Madinah yang terdampak krisis dan kalangan badui yang datang ke Madinah. Bantuan juga dikirim dan disebar ke berbagai perkampungan. Khalifah Umar memerintahkan agar bantuan itu dibagi secara merata kepada seluruh penduduk tanpa terkecuali.

Zubair bin Awwam berkata, “Umar berkata kepadaku pada tahun kelabu saat ia bersama kafilah unta membawa tepung, lemak dan minyak untuk membantu penduduk pedalaman, ‘Pergilah bersama kafilah ini dan datanglah ke Najd. Bawakan untuk setiap kepala keluarga seukuran yang bisa kau bawa dan juga yang tidak bisa kau bawa. Lewatilah setiap rumah dan berikan semua yang dibawa satu unta. Beri mereka dua pakaian. Satu pakaian untuk musim dingin dan satu pakaian untuk musim panas. Sembelihlah unta dan hendaklah  mereka menyimpan lemaknya dan mengeringkan dagingnya. Hendaklah  mereka mengambil lemak dan tepung untuk dimasak dan dimakan hingga  Allah memberi mereka rezeki.”

Khalifah Umar juga mengirimkan bantuan yang datang dari berbagai daerah  berupa makanan dan pakaian kepada semua orang selama beberapa bulan. Tungku-tungku besar sebagai dapur umum terus beroperasi yang dikerjakan oleh tangan-tangan ahli. Mereka memasak sejak fajar dan membagikan makanan kepada orang-orang. Khalifah Umar menyampaikan pengumuman, “Bila Allah tidak mengentaskan kemarau maka setiap penghuni rumah akan kami tangguhkan seperti mereka dan akan kami beri makan semampu kami. Bila kami tidak mampu, kami memutuskan setiap penghuni rumah yang memiliki perbekalan, kami satukan dengan yang tidak punya perbekalan hingga Allah mendatangkan hujan.”

Fragmen di atas memberi gambaran kepada kita bahwa bantuan untuk orang-perorang yang tertimpa krisis jumlahnya sangatlah banyak, berlebih bahkan cukup hingga mereka mampu bekerja sendiri mencari rzeki. Para korban krisis diceritakan mendapat batuan sebanyak apa yang dibawa oleh satu unta. Kita sudah tahu bahwa unta mampu membawa barang yang sangat banyak, melebihi berat tubuhnya. Inilah gambaran, bagaimana Khilafah dalam membantu para korban krisis benar-benar tercukupi semuanya, orang-perorang, tanpa kecuali.

Selain itu, Al-Faruq menangani pembagian makanan dan perbekalan untuk berbagai kabilah di tempat mereka meski kendaraan yang ditunggangi bermasalah. Saat kafilah unta Amru bin al-Ash tiba di ujung Syam, Khalifah Umar mengirim orang yang menangani pembagiannya meski termasuk dalam Jazirah Arab. Mereka beralih ke kanan dan ke kiri menyembelih unta, membagikan tepung dan pakaian. Al-Faruq mengirim seseorang membawa makanan yang dikirim oleh Amru dari Mesir melalui jalur laut. Ia membawanya dan memberi makan untuk penduduk Tihamah.

Begitulah totalitas Khilafah dalam menyelesaikan sebuah krisis. Jika pemerintah pusat sudah tidak mampu lagi, Khalifah akan memobilisasi bantuan dari wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Khilafah. Mereka didorong dan dipacu untuk memberikan bantuan yang kualitas dan kuantitasnya terbaik.

Adakah saat ini seorang kepala negara dan gubernurnya yang bersikap seperti di atas?

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Abu Umam]

 

0 Comments

Leave a Comment

19 − fifteen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password